
DKPP Batam andalkan produksi cabai lokal dan KAD untuk tekan harga

Batam (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), mengandalkan produksi cabai lokal dan kerja sama antar daerah (KAD) sebagai strategi menekan harga cabai yang harganya terus naik dan mengendalikan inflasi pangan.
Kepala DKPP Batam Mardanis, menyebutkan saat ini harga cabai merah per kilogram (kg) menembus di atas Rp70 ribu per kg, bahkan sempat di atas Rp100 ribu per kg.
“Kalau di Jakarta (cabai) mahal, (cabai di) Batam pasti ikut mahal karena pola distribusi sama. Jawa yang jadi produsen pun harganya naik karena panen berkurang, banyak penyakit, dan musim hujan membuat busuk daun maupun buah,” ujar Mardanis saat dihubungi di Batam, Senin.
Baca juga: Wujudkan aparatur berintegritas, BP Batam sosialisasikan penegakan disiplin
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga cabai merah di Batam pada tanggal 25 September tercatat sebesar Rp75 ribu per kg.
“Jadi kami siapkan strategi. Satu, dengan meningkatkan produksi lokal, dan untuk meningkatkan jalinan KAD yang sekarang masih dalam proses. Melalui kerja sama ini, pasokan (cabai) akan berasal dari Sumatera Utara dan Jawa Tengah,” kata dia.
Di sisi produksi, DKPP Batam menyiapkan lahan 15 hektare untuk budidaya cabai merah, yang melibatkan 11 kelompok tani. Selain itu, bayam dan kangkung dikembangkan di lahan seluas lima hektare di Nongsa, Sungai Beduk, dan Sagulung.
“Saat ini masih tahap persiapan lahan, jadi belum produksi. Perkiraan November akhir baru mulai panen,” kata dia.
Baca juga: Pemkot Batam: Relaksasi pajak dan "tapping box" dongkrak pendapatan asli daerah
Upaya tambahan dilakukan melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang melibatkan 2.400 anggota Kelompok Wanita Tani.
“Setiap rumah menanam 20 polybag cabai, sehingga secara total diperkirakan setara dengan empat hektare lahan. Ada juga Sekolah Lapang (SL) untuk meningkatkan keterampilan petani dalam budidaya cabai, dan ini akan bisa memproduksi sekitar satu hektare,” kata dia.
Meski targetnya baru bisa produksi satu ton cabai per hari, Mardanis mengatakan kebutuhan konsumsi Batam sesungguhnya mencapai 15 ton per hari. Namun ia mengatakan bahwa produksi P2L ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Baca juga:
Polres Anambas selidiki temuan jenazah guru PPPK di kebun
BMKG ingatkan waspada potensi hujan lebat hari ini di wilayah Kepri
Pewarta : Amandine Nadja
Editor:
Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
