Bireuen (ANTARA) - Sebanyak 83 rumah warga di Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, hilang terseret banjir.
"Ada sebanyak 83 rumah warga hilang terseret banjir. Kondisi warga yang kehilangan rumah tidak memiliki apa-apa lagi akibat banjir yang melanda beberapa waktu lalu," kata Bukhari Muslim, warga Desa Bunin yang dihubungi dari Aceh Timur, Selasa.
Bukhari Muslim mengatakan puluhan rumah beserta harta benda semuanya hanyut disapu banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/11).
Selain itu, kata dia, sebanyak 13 rumah warga lainnya mengalami kerusakan parah dan ringan. Masyarakat terdampak bencana berharap bantuan pemerintah daerah karena saat ini banyak yang kelaparan dan tidur di jalan.
"Warga tidak memiliki tenda untuk mendirikan kamp darurat. Sebagian warga yang terdampak bencana sakit dan tidak ada uang untuk membeli obat," kata Bukhari Muslim.
Bukhari Muslim menyebutkan arus banjir melanda Desa Bunin begitu deras. Banjir membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan besar yang menyapu apa saja.
Puluhan rumah yang dilewati banjir roboh, sementara lainnya terseret derasnya arus hingga hanya menyisakan fondasi. Warga yang sempat menyelamatkan diri mengaku tidak menyangka banjir datang secepat itu, kata Bukhari Muslim.
"Suara banjir seperti gemuruh dari atas gunung. Tiba-tiba air besar datang membawa kayu-kayu besar, kami langsung lari menyelamatkan diri meninggalkan rumah," katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur Ashadi mengatakan pihaknya masih mendata kerusakan rumah warga terdampak banjiri, terutama di wilayah pedalaman.
"Pendataan di wilayah pedalaman masih terkendala akses karena ada beberapa titik jalan terputus, jembatan rusak, dan genangan air yang belum surut," katanya.
Sementara tu, Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mempercepat penanganan 14 jembatan rusak di Aceh yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor Sumatera.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bahwa kesiapsiagaan infrastruktur dan sumber daya Kementerian PU menjadi bagian penting dalam mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.
“Kami memastikan dukungan peralatan dari balai-balai teknis bisa digerakkan kapanpun diperlukan, termasuk untuk membuka akses dan membantu proses evakuasi,” kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Kementerian PU telah menurunkan total 310 personel untuk membantu penanganan bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Personel yang terdiri dari Tim Tanggap Darurat unsur Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Cipta Karya ini telah melakukan respons cepat, inspeksi infrastruktur terdampak, serta mendukung penanganan darurat yang dikomandoi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Presiden RI Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar seluruh unsur pemerintah bergerak cepat dalam penanganan bencana di Pulau Sumatera.
Berdasarkan hasil inspeksi lapangan terkait dampak bencana banjir dan tanah longsor Provinsi Aceh hingga 1 Desember 2025, tercatat sebanyak 14 jembatan roboh atau terputus akibat tingginya debit air dan kerusakan akses jalan (oprit) pada sejumlah titik.
Kerusakan ini menyebabkan gangguan serius pada akses masyarakat, distribusi logistik, serta pelayanan darurat di berbagai wilayah Aceh.
Hasil inspeksi Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh mencatat bahwa jembatan mengalami kerusakan rata - rata berupa runtuh, oprit tergerus, atau struktur terseret arus.
Adapun jembatan yang mengalami kerusakan adalah Jembatan Weihni Rongka, Oprit Jembatan Krueng Beutong, Jembatan Krueng Meureudu, Jembatan Teupin Mane, Jembatan Kuta Blang.
Kemudian Jembatan Jamur Ujung, Jembatan Lawe Penanggalan, Jembatan Timang Gajah, Jembatan Jerata, Jembatan Pelang, Jembatan Titi Merah, dan 3 lokasi lain dalam verifikasi detail tim lapangan.
Kementerian PU terus bergerak cepat untuk memastikan infrastruktur terdampak dapat segera difungsikan kembali.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Sebanyak 83 rumah di pedalaman Aceh Timur hilang terseret banjir

Komentar