Jakarta (ANTARA) - Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri tengah menyelidiki penyebab terjadinya banjir bandang di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada akhir November 2025.
Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Moh. Irhamni mengatakan bahwa pihaknya menetapkan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Mukhlisin sebagai tempat kejadian perkara (TKP).
"Kami mencocokkan atau mengidentifikasi kayu-kayu yang ada di Darul Mukhlisin. Kemudian, kami cocokkan ke daerah hulu, itu sumbernya dari mana," katanya dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa.
Irhamni mengatakan kayu-kayu tersebut diduga berasal dari kegiatan pembukaan lahan di hutan lindung.
"Tentunya legal tidak menutup kemungkinan juga adanya dampak lingkungan yang rusak, ataupun apalagi kalau itu ilegal," katanya.
Saat ini, tim penyelidik pada Dittipidter tengah mendalami temuan ini agar bisa segera naik ke penyidikan.
Selain mengidentifikasi temuan kayu, sambung Irhamni, penyelidik juga menemukan sedimentasi yang luar biasa parah di TKP Ponpes Darul Mukhlisin dan sekitarnya sehingga menyebabkan kerusakan rumah serta fasilitas umum.
Ia mengatakan sedimentasi tersebut diduga akibat adanya ketidaktaatan dalam pembukaan lahan secara ilegal ataupun secara legal yang tidak mematuhi Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).
"Kalau ilegal tentunya tidak ada UKL-UPL, tetapi, kalau itu legal, tentunya dia harus taat kepada UKL-UPL," ucapnya.
Dari temuan tersebut, penyelidik pun mendalami dugaan adanya pelanggaran lingkungan hidup.
"Di Kuala Simpang masyarakat bisa kita lihat rumahnya masuk itu lumpur-lumpur yang dari hulu ini dan di sungai terjadi sedimentasi yang sangat tinggi sehingga hujan sebentar pun sudah terjadi banjir di sana. Itulah yang kami maksud adanya kerusakan lingkungan ataupun tindak pidana lingkungan itu," katanya.
Sebelumnya, kondisi Pondok Pesantren Darul Mukhlisin tampak mencekam pada 26 November 2025 lalu. Pada saat itu, bangunan pesantren tersebut nyaris tidak bisa terlihat akibat tertimbun lumpur pekat dan gunungan kayu gelondongan yang terbawa arus.
Batang-batang pohon besar berserakan di halaman sehingga menutupi akses vital dan merusak fasilitas pendidikan.
Sementara itu, Pemerintah Aceh mengerahkan lima unit alat berat untuk membersihkan material lumpur dan kayu gelondongan yang menimbun sejumlah fasilitas sekolah pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang.
"Pemerintah Aceh mengerahkan lima unit alat berat untuk mempercepat proses evakuasi material lumpur tebal dan kayu-kayu gelondongan yang masuk ke area sekolah," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, di Banda Aceh, Senin.
M Nasir mengatakan, langkah ini diambil agar sisa material banjir tidak menghambat proses belajar mengajar terlalu lama. Apalagi, pembersihan material berat memerlukan penanganan khusus supaya bangunan tetap layak digunakan.
Ia menjelaskan, tim di lapangan menerapkan strategi pembersihan bertahap dengan fokusnya memastikan bagian dalam bangunan bersih sebelum kemudian berlanjut ke area luar sekolah.
“Target pertama kami adalah membersihkan kelas-kelas, ruang guru, tata usaha, dan ruangan lainnya. Langkah yang dilakukan adalah mendorong lumpur keluar dari ruangan menuju halaman. Setelah itu, baru kami bersihkan bagian luar sebagai tahap finishing,” ujarnya.
Selain dukungan alat berat, aksi pemulihan ini juga diperkuat oleh kehadiran 4.000 relawan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) pemerintah Aceh yang dikerahkan sejak pekan lalu.
Mereka, bekerja secara manual menggunakan cangkul, sekop, dan pendorong air untuk menjangkau sudut-sudut ruangan yang tidak bisa diakses alat berat.
M Nasir menambahkan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengapresiasi atas kolaborasi antara teknologi alat berat dan tenaga manusia di lapangan yang telah bahu membahu turun ke lokasi bencana.
"Kerja keras ini adalah bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam memastikan anak-anak kita bisa kembali bersekolah dengan nyaman," demikian M Nasir.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Bareskrim Polri selidiki penyebab banjir bandang di Aceh Tamiang

Komentar