Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), mencatat angka prevalensi stunting pada anak usia bawah lima tahun (balita) kembali menurun pada 2025 menjadi 1,0 persen dari sebelumnya 1,23 persen pada 2024.
Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan penurunan tersebut menunjukkan efektivitas intervensi yang selama ini dijalankan.
“Prevalensi balita stunting di 2025 itu diperoleh dari hasil pengukuran terhadap 69.919 balita, dengan temuan 697 anak yang mengalami stunting kategori pendek dan sangat pendek,” katanya saat dihubungi di Batam, Senin.
Sebagai perbandingan, kata dia, secara nasional angka prevalensi stunting pada 2024 yakni 19,8 persen.
Didi mengatakan capaian tersebut hasil dari intervensi berbasis wilayah dan pendampingan keluarga berisiko secara by name by address. “Serta, penguatan pemantauan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), optimalisasi posyandu, serta kolaborasi lintas sektor terutama pada aspek gizi, sanitasi, dan pola asuh,” katanya.
Berdasarkan data 2025, Kecamatan Nongsa tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi di Batam yakni 3,12 persen. Disusul Kecamatan Sekupang sebesar 3,02 persen dan Batu Aji 2,43 persen.
Dinkes Batam menargetkan tren penurunan di tingkat kota dapat terus dijaga dan merata di seluruh kecamatan.
“Fokus kami ke depan adalah memastikan penurunan stunting terjadi secara merata di seluruh wilayah, terutama di kecamatan dan kelurahan dengan prevalensi masih tinggi,” ujar Didi.
Sebagai informasi, angka prevalensi balita stunting di Batam terus mengalami penurunan dengan angka 15,2 persen pada 2022, menurun menjadi 2,35 persen pada 2023 dan hingga kini terus menurun.

Komentar