
Banjir Batam Akibat Saluran Terhalang Bangunan

Batam (Antara Kepri) - Hasil survei Badan Pengusahaan (BP) Batam menunjukkan banjir yang kini sering melanda 42 lokasi antara lain diakibatkan banyak bagian atas saluran air terhalang berbagai bangunan warga untuk berniaga.
Di pusat-pusat kota banyak bagian atas drainase yang ditutup warga yang mendirikan berbagai bangunan usaha. Banyak juga yang membangun dengan mempersempit saluran utama pembuangan air sehingga rawan banjir," kata Kasi Jaringan Drainase, Utilitas dan Pematangan Lahan BP Batam, Wulung Dahana di Batam, Selasa.
Keadaan tersebut diperburuk kios-kios yang dibangun dengan tujuan untuk berjualan difungsikan pula sebagai tempat tinggal.
"Penghuninya juga cenderung membuang sampah sembarangan. Karena salurannya tertutup, tidak ada perawatan. Saluran tersumbat sampah dan mengakibatkan banjir saat hujan," kata dia.
BP Batam sudah melakukan pembicaraan dengan Dinas Tata Kota Batam, Bapedalda Batam, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum Kota dan Provinsi serta Kementerian PU untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Bangunan-bangunan di atas drainase akan dibongkar oleh tim terpadu. Saat ini sedang dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak tersebut," kata Wulung.
Selain banyaknya bangunan di atas saluran air dan sampah yang dibuang sembarangan, banjir di Batam juga disebabkan pematangan lahan, drainase kurang besar dan belum adanya saluran yang dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan banjir turun.
"Kami juga masih berkoordinasi untuk menentukan siapa-siapa yang akan menangani titik-titik banjir," kata dia.
Kasubdit Humas dan Publikasi BP Batam, Ilham Eka Hartawan mengatakan BP Batam hanya akan menangani perbaikan drainase pada jalan-jalan kawasan industri dan jalan-jalan negara.
Sementara pada titik-titik lain akan dilakukan oleh pihak lain seperti Pemkot Batam, Pemprov Kepri," kata dia.
Ia mengatakan, saat ini ada 42 titik banjir termasuk sekitar kawasan industri Batam dari awalnya hanya 27 titik. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
