Logo Header Antaranews Kepri

Diskan Batam bina kelompok pembudidaya ikan air tawar bioflok di pulau terpencil

Selasa, 5 Mei 2026 17:28 WIB
Image Print
Diskan Batam saat meninjau budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok di Batam, Kepri, Selasa (5/5/2026). (ANTARA/Amandine Nadja)

Batam (ANTARA) - Dinas Perikanan (Diskan) Batam, Kepulauan Riau mendorong pengembangan budidaya ikan air tawar dengan pembinaan kepada kelompok budidaya di salah satu pulau penyangga di Batam, yakni Pulau Karas, Kecamatan Galang.

Kepala Diskan Kota Batam Yudi Admajianto mengatakan, pihaknya melakukan pembinaan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anak Karas Kecil yang telah mengembangkan budidaya ikan nila dan lele.

“Kita melakukan pembinaan kepada kelompok pembudidaya ikan di Pulau Karas. Di sini ada dua kolam, satu kolam biasa dan satu lagi menggunakan sistem bioflok dengan kolam terpal,” ujarnya di Batam, Selasa.

Ia menjelaskan, budidaya konvensional telah berjalan sekitar dua tahun, sementara sistem bioflok baru dikembangkan sekitar empat bulan terakhir melalui bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Kami hari ini melakukan pengecekan untuk kualitas air, produksi flok, pakan dan sistem pembenihan. Mereka mendapatkan delapan kolam dari KKP,” kata dia.

Dari hasil pengukuran, tingkat keasaman (pH) air berada di angka 6,8 yang masih dalam kisaran ideal untuk budidaya ikan. Namun dari sampel air yang diambil, dapat dipastikan bahwa produksi flok masih kurang banyak untuk kebutuhan ikan nila.

Baca juga: BPJS Keliling perluas akses layanan JKN hingga pulau penyangga Batam-Karimun

“Karena bioflok merupakan teknologi baru makanya kami lakukan pembinaan agar mereka melakukannya dengan baik. Harusnya ini sudah bisa panen tapi karena terkendala, mungkin 1-2 bulan lagi baru bisa,” katanya.

Selain itu, suhu dan kadar oksigen juga menjadi perhatian untuk memastikan pertumbuhan ikan tetap optimal, khususnya pada sistem bioflok yang membutuhkan pengelolaan intensif.

Namun, untuk budidaya ikan lele dengan kolam terpal biasa, kelompok tersebut sudah berhasil.

“Alhamdulillah di sini sudah menghasilkan 200 kg per bulan. Untuk pemasaran tidak menjadi masalah, karena hasilnya akan ditampung dan juga kita komunikasikan dengan beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada,” katanya.

Yudi menambahkan, pengembangan budidaya ikan air tawar di Pulau Karas diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat di pulau lain.

“Ini menjadi peluang bagi masyarakat pulau bahwa budidaya ikan air tawar bisa dilakukan selain perikanan tangkap. Kami siap melakukan pembinaan bagi kelompok lain yang ingin mengembangkan usaha serupa,” ujarnya.

Baca juga: Disdik Kepri sebut tingkat kelulusan siswa SMA/SMK/SLB capai 99,94%



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026