
Nelayan Perbatasan Ikut Perkuat Rupiah

Batam (Antara Kepri) - Aktifitas nelayan di perbatasan yang bertransaksi menggunakan dolar Singapura dinilai dapat memperkuat nilai rupiah di tengah krisis yang kini melanda Indonesia, meski nilainya relatif kecil.
"Menurut saya, nelayan yang bertransaksi menggunakan non rupiah akan memperkuat nilai rupiah," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Harry Azhar Azis di Batam, Kamis.
Mata uang asing yang dibawa nelayan perbatasan sebagai hasil penjualan ikannya itu akan menjadi devisa negara, karena masuk tanpa ada nilai rupiah yang ke luar.
Pernyataan Harry itu menanggapi penggunaan dolar Singapura oleh nelayan asal Batam dan daerah lain di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang menjual ikan hasil tangkapannya ke Singapura.
Pengumpul ikan langsung menjual hasil tangkapan ke pasar-pasar di Negara Jiran menggunakan dolar. Karena dijual menggunakan dolar Singapura, maka pembayaran ke tiap pencari ikan pun menggunakan dolar Singapura.
Harry tidak menyalahkan penggunaan mata uang asing di daerah perbatasan. Menurut anggota DPR daerah pemilihan Kepri itu, praktek penggunaan dolar Singapura di kalangan nelayan Kepri sudah terjadi sejak dulu dan menjadi tradisi. Karenanya seharusnya ada pengecualian dari UU Mata Uang.
"Untuk daerah tertentu harus ada pengecualian. Karena nilainya juga kecil, hanya untuk kebutuhan nelayan saja," kata dia.
Ia menyarankan pemerintah membuat batasan transaksi menggunakan mata uang asing di daerah perbatasan, bisa maksimal 1.000 dolar AS sampai 2.000 dolar AS.
"Harus lihat realitas kelompok masyarakat. Tradisi harus bisa dikeluarkan atau dilindungi oleh peraturan. Nilainya juga tidak signifikan, tidak mengganggu sistem perekonomian," kata dia.
Sebelumnya, pengumpul ikan Pulau Terung Asman Usman menyatakan transaksi jual beli ikan dan kebutuhan pokok nelayan pulau-pulau pesisir menggunakan mata uang dolar Singapura.
Menurut dia, membayar ikan menggunakan dolar Singapura lebih praktis ketimbang harus menukarkan dulu ke rupiah.
Bahkan kadang, jika tidak ada rupiah, maka belanja kebutuhan sehari-hari seperti gula dan beras juga menggunakan dolar Singapura yang nilainya dikonversikan.
Ia mengatakan karena di pulau-pulau jarang ada gerai penukaran uang, maka nelayan mengumpulkan penghasilannya hingga beberapa ribu dolar Singapura, baru kemudian menukarkannya ke Pulau Belakang Padang atau Batam.
"Kalau sudah terkumpul 4.000 dolar, baru ke Batam, atau ke Belakang Padang," kata dia.(Antara)
Editor: Dedi
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
