Cegah serangan buaya, BPBD Bintan imbau warga tak melaut malam

id BPBD bintan, ancaman buaya di pesisir bintan, nelayan bintan waspada buaya,buaya, kepri

Cegah serangan buaya, BPBD Bintan imbau warga tak melaut malam

BPBD bersama stakeholder terkait memasang papan imbauan waspada buaya di kolam retensi Kijang, Kabupaten Bintan, Kepri, belum lama ini. ANTARA/HO-BPBD Bintan

Bintan, Kepri (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mengimbau nelayan tidak melaut di malam hari guna mencegah potensi serangan buaya yang belakangan semakin marak di wilayah pesisir setempat.

"Buaya sangat agresif pada malam hari dan mudah menyerang siapapun, termasuk manusia. Sebaiknya nelayan melaut setelah shalat Subuh," kata Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Bintan, Muhammad Mi'raj, Jumat.

Selain itu, masyarakat pesisir juga diimbau tidak sembarangan membuang sampah atau limbah sisa makanan di laut karena dapat memicu kemunculan buaya.

Baca juga: Kejari Batam sebut tiga perusahaan ikut lelang MT Arman tak penuhi syarat

Mi'raj mencontohkan di pesisir Teluk Bintan terdapat kawasan peternakan yang membuang potongan ayam dan ternak mati di laut.

Kemudian, ada pula pabrik ketam masyarakat yang membuang limbah ketam di perairan sekitar.

"Sisa makanan berbau anyir seperti itu, menarik perhatian buaya muncul ke permukaan dan berisiko mengancam keselamatan warga pesisir," ujarnya.

Menurut dia keberadaan buaya di pesisir Bintan saat ini semakin meresahkan warga, apalagi setelah kasus serangan buaya yang menewaskan seorang nelayan Tembeling saat melaut pada Jumat, 16 Januari 2026.

Baca juga: Pemkot Batam naikkan bantuan lansia jadi Rp400 ribu per bulan

Kemunculan buaya itu pun tidak terlepas dari kondisi pemanasan global yang memicu suhu air laut meningkat. Dampaknya, buaya kerap muncul di permukaan untuk mencari tempat nyaman dan banyak makanan.

"Masyarakat pun harus memahami pola tingkah buaya. Sifat buaya biasanya tidak akan menyerang kalau habitatnya tidak terganggu," ungkapnya.

BPBD Bintan berharap pihak berwenang, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera mengeksekusi buaya ke tempat penangkaran atau penampungan, mengingat ancaman buaya yang semakin berbahaya dan agresif. Pemkab Bintan juga tengah menyusun pembentukan satgas penanganan buaya di daerah tersebut.

Dari laporan yang diterima BPBD, lanjutnya, hampir semua kawasan pesisir di Bintan terdapat buaya. Sepanjang periode 2022-2026, sudah ada empat korban serangan buaya, dua di antaranya meninggal dua luka-luka.

"BPBD segera menambah pemasangan papan imbauan di titik-titik pesisir yang rawan buaya," demikian Mi'raj.

Baca juga:
BMKG imbau masyarakat Kepri tak bakar lahan selama musim kemarau

Bea Cukai Batam : 4 dari 914 kontainer berisi limbah B3 telah dikembalikan

Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026


Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE