Logo Header Antaranews Kepri

Pengamat: Pelemahan Rupiah Ancam Kualitas Proyek Karimun

Minggu, 1 September 2013 19:55 WIB
Image Print

Karimun (Antara Kepri) - Pengamat sosial Trio Wiramon menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa mengancam kualitas proyek fisik di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.

"Sebagian besar pedagang maupun distributor material bangunan menggunakan dolar dalam bertransaksi. Hal ini bisa mengancam kualitas proyek karena harga material praktis naik sehingga tidak sesuai dengan harga pagu anggaran proyek," katanya di Tanjung Balai Karimun, Minggu.

Trio Wiramon mengatakan, ketidaksesuaian harga material dengan pagu anggaran berpotensi terjadinya pengurangan pekerjaan karena kontraktor tidak mau rugi dengan kenaikan harga.

"Kondisi seperti ini cukup dilematis, di satu sisi kontraktor tidak mau rugi, namun di sisi lain setiap proyek yang dikerjakan harus tetap mengacu pada bestek sesuai nilai kontrak," ucapnya.

Menurut dia, lemahnya pengawasan penggunaan rupiah merupakan salah satu penyebab banyaknya distributor yang mengacu pada mata uang asing, terutama dolar Singapura dalam bertransaksi.

"Setahu kami sudah ada undang-undang yang melarang penggunaan mata uang asing dalam bertransaksi. Kalau material impor mungkin masih bisa dimaklumi, tapi material buatan dalam negeri juga ikut naik sejak dolar melonjak," ucap Ketua Dewan Pembina LSM Gerakan Tanpa Kompromi itu.

Secara terpisah, seorang kontraktor yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa pelemahan rupiah memicu kenaikan harga material bangunan.

"Berdasarkan hitung-hitungan yang kami lakukan, biaya proyek membengkak sampai Rp200 juta akibat kenaikan harga material," ucapnya.

Ia mengaku terpaksa menunggu penguatan rupiah terhadap dolar sehingga harga material bangunan kembali turun.

"Hingga akhir pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura masih tinggi, di atas Rp8.000. Kami berharap segera turun karena kami juga tidak ingin pengerjaan proyek mengalami keterlambatan," ucapnya.

Dedi, kontraktor lain mengatakan hal yang sama. Ia berharap pemerintah melakukan langkah-langkah pemulihan kurs rupiah.

"Kami berharap pengawasan ditingkatkan agar pengusaha tidak seenaknya menggunakan dolar dalam bertransaksi karena harga material dalam negeri juga mengacu pada dolar Singapura," ucapnya.

Berdasarkan informasi dihimpun, harga material seperti besi impor pada beberapa distributor dan toko mengalami kenaikan pada kisaran Rp500.000 hingga Rp1 juta per ton. Sedangkan besi asal Medan, Sumatera Utara juga naik hingga Rp400.000, yaitu dari Rp6 juta menjadi Rp6.400.000.

"Harga semen juga naik, namun kenaikannya bukan karena pelemahan rupiah, tapi sejak kenaikan harga BBM bersubsidi," tambah Dedi.(Antara)

Editor: Dedi



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026