
Memutus mata rantai diabetes melalui CKG

Tanjungpinang (ANTARA) - Dalam dunia kesehatan, slogan mencegah lebih baik daripada mengobati memang mudah diucapkan, tetapi sangat menantang untuk konsisten dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, karena sifat dasar manusia yang cenderung fokus pada ancaman instan daripada risiko jangka panjang.
Secara psikologis, seseorang lebih termotivasi untuk bertindak saat rasa sakit sudah terasa, atau dengan kata lain baru akan berobat ketika sudah jatuh sakit.
Prinsip mencegah penyakit sebenarnya lebih mudah dan murah dari segi biaya, waktu dan tenaga dibandingkan berobat setelah sakit. Bahkan untuk penyakit kronis, memerlukan biaya lebih besar hingga proses pengobatan seumur hidup.
Karena itu, pentingnya pemeriksaan kesehatan dini guna mengidentifikasi risiko penyakit sejak awal, sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat, termasuk mencegah penyakit berkembang ke tahap yang lebih parah.
Di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menurut data BPJS Kesehatan, masyarakat usia 45 tahun ke bawah cenderung enggan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit.
Kondisi itu kemungkinan dipengaruhi faktor kekhawatiran akan didiagnosa penyakit tertentu, atau merasa tubuh masih mampu mengatasi gejala sakit yang barangkali berpotensi menimbulkan komplikasi lebih lanjut.
Padahal di rentang usia 30 sampai 40-an tahun, seseorang menjadi sangat rentan terhadap gejala penyakit serius, khususnya diabetes, seiring terjadinya pergeseran pola hidup modern dan stres metabolik.
Masyarakat Tanjungpinang rata-rata baru mengakses layanan kesehatan dalam keadaan sudah kronis. Di RSUD Kota Tanjungpinang, tercatat sebagian besar pasien yang datang berobat ke poli penyakit dengan keluhan diabetes.
Hal itu dibuktikan pula dengan tingginya tingkat pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk pasien diabetes, yaitu mencapai 24 persen atau Rp8,4 miliar dari total Rp35 miliar yang dibayarkan BPJS Kesehatan Tanjungpinang per bulan.
Tantangan Diabetes
Diabetes tampaknya masih menjadi tantangan kesehatan terbesar di wilayah Provinsi Kepri pada umumnya. Diabetes menduduki peringkat kedua penyakit tertinggi setelah hipertensi, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan setempat.
Jumlah penderita diabetes di Kepri yang tersebar di tujuh kabupaten/kota itu mencapai 250 ribu jiwa dari total 2,5 juta penduduk setempat. Sementara, secara nasional sebanyak 30 juta jiwa dari total 280 juta penduduk Indonesia.
Secara usia, persentase penderita diabetes di Kepri untuk usia 18-29 tahun sebesar 1,8 persen, lalu usia 30-39 tahun 3,1 persen, kemudian usia 40-59 tahun 8,7 persen, dan usia 60 tahun 12,7 persen.
Kenapa diabetes perlu jadi perhatian utama saat ini, karena penyakit yang masuk dalam kelompok katastropik ini menjadi pintu masuk utama penyakit serius lainnya, mulai dari jantung, stroke, kerusakan ginjal, mata hingga gangguan saraf.
Maka itu, penyakit diabetes harus bisa dikontrol supaya tetap terkendali sekaligus mencegah komplikasi yang semakin parah. Kalau sudah terlanjut komplikasi, otomatis biaya pengobatan membengkak hingga berujung kematian bagi si penderitanya.
Biaya rata-rata untuk berobat yang rutin ditanggung oleh BPJS Kesehatan bagi mengidap diabetes berkisar antara Rp500.000 hingga Rp2.000.000 per bulan, untuk pasien rawat jalan tanpa komplikasi.
Namun, jika sudah terjadi komplikasi berat yang memerlukan rawat inap, biayanya bisa membengkak drastis hingga Rp105 juta per episode perawatan.
Dari catatan medis, diabetes dipicu beberapa faktor, antara lain faktor genetik atau keturunan, di mana ada gen yang diturunkan orang tua ke anaknya sehingga menyebabkan si anak menderita diabetes. Berdasarkan survei, satu di antara 10 penderita diabetes dipicu faktor keturunan.
Kemudian, faktor gaya hidup tidak sehat dampak banyak mengonsumsi makanan olahan tinggi kalori dan lemak. Sebagai penggantinya, perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk mencegah diabetes.
Selain itu, diabetes juga bisa diakibatkan kurangnya aktivitas fisik atau olahraga rutin. Minimal 30 menit dalam sehari, tubuh harus mendapatkan asupan olahraga.
Ada gejala klinis paling khas atau disebut Trias Klasik untuk mengetahui seseorang menderita diabetes atau tidak, yakni Polidibsi yaitu sering merasa haus atau ingin minum secara berkala.
Berikutnya, Poliuria atau sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari sehingga mengganggu waktu tidur. Orang normal buang air kecil sekali di malam hari, namun penderita diabates bisa tiga sampai empat kali.
Selanjutnya, Polifagia yaitu sering merasa lapar padahal baru selesai makan. Termasuk faktor gangguan saraf pada saat bangun tidur, seperti otot keram dan kebas, bisa jadi itu gejala diabetes.
Warga sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika mulai mengalami gejala diabates agar bisa ditangani lebih lanjut.
Deteksi dini lewat CKG
Pemerintah Pusat di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah meluncurkan sebuah program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk tindakan skrining kesehatan. Tujuannya agar pemerintah lebih mudah melakukan upaya pencegahan sekaligus deteksi ini penyakit di masyarakat.
Di Provinsi Kepri, cakupan layanan CKG hingga saat ini telah mencapai 321.196 orang (13,5 persen) dari target 2,1 juta jiwa/penduduk.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 203.256 orang (69 persen) sudah mendapatkan layanan CKG, lalu 25.645 orang (8,0 persen) tidak hadir, dan sisanya sedang berproses.
Capaian ini juga menunjukkan antusiasme masyarakat Kepri terhadap layanan kesehatan gratis yang disiapkan pemerintah ini cukup tinggi, mengingat capaian CKG per Agustus 2025 baru di kisaran 1,15 persen.
Berdasarkan faktor risiko hasil CKG di Kepri, risiko penyakit diabetes berada di peringkat kedua tertinggi atau sebesar 7,7 persen, berada satu peringkat di bawah penyakit hipertensi sebesar 23,7 persen.
Kondisi ini pula menggambarkan ancaman beban penyakit di Kepri ke depannya akan sangat tinggi, jika kondisi kesehatan masyarakat tidak bisa dikendalikan dengan ketat.
Karena itu, masyarakat diminta memanfaatkan program CKG sebagai langkah deteksi awal risiko penyakit, termasuk mencegah penyakit berkembang lebih parah serta menurunkan angka kematian.
Sebagai contoh, ketika seseorang didiagnosa diabetes dari hasil CKG, maka akan diarahkan untuk berkonsultasi ke dokter di puskesmas atau fasilitas kesehatan guna mendapatkan interpretasi resmi dan rencana tindak lanjut medis yang tepat.
Sementara, bagi warga yang sudah terlanjur diabetes akan dilakukan pemeriksaan darah rutin setiap 3 hingga 6 bulan sekali guna memantau kadar gula darah jangka panjang dan mencegah komplikasi.
Pasien diabetes juga diberi obat utama seperti Metformin, golongan Sulfonilurea (seperti Glimepiride), dan terapi insulin. Pemilihan jenis obat ini disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi tubuh pasien.
Minimal sekali dalam setahun, masyarakat di Kepri harus melakukan pengecekan kesehatan diri, karena mencegah datangnya penyakit jauh lebih baik ketika mengobatinya setelah sakit.
Masyarakat dapat mengakses layanan CKG di puskesmas-puskesmas terdekat, dengan cukup membawa KTP. Layanan ini gratis tanpa dipungut biaya.
Puskesmas di Kepri dalam sehari rata-rata mampu melayani 30-40 peserta CKG, dengan sasaran 50 persen indikator pemeriksaan kesehatan dari total 39 indikator CKG.
Selain puskemas, pemerintah daerah terus berupaya memperluas cakupan CKG di tengah-tengah masyarakat dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait, mulai dari satuan pendidikan, lembaga/kantor pemerintahan hingga ke tingkat desa.
Oleh OGN
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
