
LAM: Pemerintah Harus Cepat Tangani Tanjunguma

Batam, (Antara Kepri) - Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau menyatakan sengketa lahan Kampung Tua, Tanjunguma, Batam, perlu ditangani serius oleh pemerintah maupun penegak hukum sebab berpotensi menimbulkan konflik antarsuku.
"Konflik antarsuku dapat merugikan banyak pihak, termasuk pihak-pihak yang berkonflik. Karena itu sebaiknya semua pihak yang berkepentingan dengan permasalahan itu menahan diri, dan pemerintah bersama penegak hukum serius menanganinya," kata Ketua Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau (LAM Kepri) Abdul Razak, yang dihubungi dari Batam, Rabu.
Ia menambahkan, LAM Kepri belum mengambil langkah-langkah untuk meredam permasalahan itu. LAM Kepri tidak ingin salah langkah dalam mengambil kebijakan sehingga memandang perlu untuk melakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah.
"Keinginan kami tentu sama seperti keinginan pemerintah yaitu menjaga Batam maupun daerah lainnya tetap aman dan tentram," ungkapnya.
Razak mengemukakan, permasalahan sengketa lahan di kampung tua yang berujung konflik harus diselesaikan secara bijaksana dan sesuai dengan ketentua. Konflik yang terjadi dalam beberapa terakhir ini hanya akan menguras energi, sementara masalah lahan itu tidak selesai.
"Kami belum menjadwalkan musyawarah dengan tokoh masyarakat di Batam untuk membahas permasalahan itu. Tetapi itu akan dilakukan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah," ujarnya.
Aksi unjuk rasa yang dilakukan ribuan warga di Batam Kota sejak Rabu pagi berhasil dibubarkan aparat kepolisian pada sore hari.
Kapolda Kepulauan Riau Brigjen Pol Endjang Sudradjat mengatakan terpaksa membubarkan massa yang berunjuk rasa di halaman Kantor Badan Pengusahaan Batam karena mulai merusak kantor tersebut.
"Tidak ada jalan lain, kami terpaksa menghalau massa agar tidak semakin anarkis dan membakar kantor BP Batam," kata Kapolda di Halaman BP Batam.
Sebelum menghalau dengan tembakan gas air mata, kata dia, polisi sudah melakukan tindakan persuasif terhadap pengunjuk rasa.
"Mereka sudah merusak pagar kawat berduri dan pagar BP Batam kami masih biarkan. Namun karena mereka mulai menyerang, kami halau," kata dia. (Antara)
Editor: Evy R. Syamsir
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
