
BI: FTZ Batam Gagal Dorong Ekspor

Batam (Antara Kepri) - Pelaksanaan Kawasan Perdagangan Bebas Batam gagal mendorong ekspor, sebaliknya justru melemahkan impor, ini berdasarkan data yang diolah BI, kata Kepala Kantor Bank Indonesia Kepulauan Riau Gusti Raizal Eka Putra di Batam, Selasa.
"FTZ juga tidak mendorong meningkatkan ekspor, justru melemahkan impor kita," kata Kepala BI Kepri dalam Seminar Nasional Pemberdayaan UMKM Sektor Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Ekonomi Biru.
Ia mengatakan laju ekspor masih di bawah impor, karena selain untuk konsumsi, hampir seluruh barang yang diproduksi di Batam didatangkan dari luar negeri untuk kemudian diolah dan hasilnya diekspor kembali.
"Barang yang dibeli, material dari luar, hanya sedikit diolah, terus jual lagi," kata dia.
Ia mengatakan BI berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sesuai dengan karakteristik masing-masing.
Jika sebelumnya BI mendorong industri, maka kini melihat luasnya wilayah laut di Kepri, BI mengarahkan pada industri kelautan.
"Kepri ini 96 persen wilayahnya laut, potensi kelautannya besar, namun belum tergarap," kata dia.
Di tempat yang sama, pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan FTZ Batam tidak sesuai harapan, karena nilai ekspor yang lebih kecil ketimbang impor.
Batam, menurut dia, ke luar dari tujuan semula menjadi kota industri. Sebaliknya Batam justru berkembang menjadi kota perdagangan.
Ia menyarankan agar mengembalikan budaya maritim di Batam, dan lebih menonjolkan kelebihan maritim Batam agar perekonomian Batam dan Kepri lebih baik.
Sementara itu, pakar kelautan Rokhmin Danuri mengatakan potensi kelautan di Kepri sangat besar. Di Natuna saja, potensinya lebih dari 10 ton ikan per hari. Namun, sebagian besar ikannya dicuri nelayan Thailand.
Untuk membangkitkan industri maritim, ia meminta dukungan perbankan dengan menyalurkan kredit.
"Perlu ekonom, supaya BI bisa meminjamkan kredit, buat usaha jadi 'bankable'," kata dia. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
