Logo Header Antaranews Kepri

Pemkab Natuna Dinilai Tidak Serius Lestarikan Cagar Budaya

Sabtu, 10 Mei 2014 10:18 WIB
Image Print

Natuna (Antara Kepri) - Ketua Lembaga Kajian Sejarah (Lekas) Natuna, yang juga penggelola Museum Sriserindit, Zaharuddin menilai, Pemerintah Kabupaten Natuna tidak serius ikut melestarikan dan melindungi cagar budaya daerah tersebut.

"Salah satu contoh tidak serius adalah tidak adanya museum. Bahkan hingga kini, banyak peninggalan cagar budaya dari peradaban manusia sejak abad kesembilan lalu, beralih ke tangan kolektor asing," ungkap Zaharuddin, Sabtu.

Dikatakan Zaharuddin, perhatian terhadap cagar budaya peninggalan peradaban masa silam, justru lebih banyak dilakukan negara asing. Bahkan, mereka siap membiayai segala kebutuhan museum dalam melestarikan barang barang cagar budaya itu.

"Salah satu negara yang bersedia bekerja sama adalah China. Bahkan ada kolektor asing yang berniat membeli semua isi museum," katanya Zaharuddin.

Ia mengatakan, di Museum Sriserindit memiliki ribuan jenis koleksi barang antik dari abad ke-9 hingga abad 18. Mulai dari keramik kuno, guci, senjata tradisional, gerabah hingga peralatan rumah tangga. Tidak hanya peninggalan dari tanah air saja, juga terdapat peninggalan dari belahan dunia.

"Di museum ini, banyak peninggalan dari zaman dahulu, seperti dari dinasti China, termasuk dari negara eropa. Tidak hanya jenis keramik saja, tetapi juga ada dari peralatan rumah tangga," jelasnya.

Agar benda cagar budaya ini tetap terjaga, tegas Zaharuddin, Pemerintah Natuna harus menyediakan museum. Tanpa museum, benda-benda cagar budaya tersebut tidak akan aman bahkan sangat rawan terjadi kehilangan dan pencurian.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah Museum. Tanpa museum benda-benda cagar budaya tersebut tidak akan aman dan sangat rawan terjadi pencurian dan penjualan kepada kolektor asing," tegasnya. (Antara).

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026