
PM Australia Bertemu Presiden di Batam

Batam (Antara Kepri) - Perdana Menteri Australia Tony Abbott tiba di Nongsa Point Marina & Resort, Batam, Rabu sore, guna menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Berdasarkan pantauan Antara di Batam, Rabu, kedatangan PM Abbott sekitar pukul 17.00 WIB itu langsung disambut oleh Presiden Yudhoyono.
Presiden didampingi lima menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yaitu Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, serta Sekretaris Kabinet Dipo Alam.
PM Abbott yang memakai jas hitam dan dasi biru itu juga menulis di buku tamu dan kemudian bersama Presiden menuju ke lantai atas untuk menggelar pertemuan bilateral.
Sementara itu, Dubes RI untuk Australia Nadjib Riphat Kesoema mengatakan kepercayaan merupakan hal yang penting dalam mengoptimalkan kembali hubungan kedua negara. "Yang penting 'trust and confidence'," ujarnya.
Ia menambahkan saat dirinya kembali ke Australia disambut dengan baik oleh pihak Australia bahkan Menlu Australia Julie Bishop menghubunginya secara langsung ketika itu.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Pesawat Kepresidenan tiba di Bandara Hang Nadim, Batam, Rabu siang, untuk melakukan kunjungan kerja sekaligus menemui PM Australia Tony Abbott dan Presiden Singapura Tony Tan Kem Yang.
Pesawat Khusus Kepresidenan jenis Boeing Business Jet 2 mendarat dengan mulus di Hang Nadim sekitar pukul 12.45 WIB, meski kondisi cuaca saat itu sedang turun hujan cukup deras.
Staf khusus Presiden bidang hubungan Internasional Teuku Faizasyah dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (3/6), mengatakan Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraan per telepon Presiden Yudhoyono dan PM Abbott di sela-sela Konferensi Open Government Partnership di Bali pada 6 Mei 2014.
Pertemuan Presiden RI-PM Australia itu terkait dengan hubungan bilateral Indonesia-Australia yang telah dibangun berdasarkan Kemitraan Komprehensif akan dapat kembali dioptimalkan manakala kedua negara mampu membangun kembali "trust and confidence" dengan mengacu pada suatu "code of conduct". (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
