
Natuna Krisis Listrik

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) mengalami krisis listrik dalam dua bulan terakhir, padahal pemerintah mensubsidi Rp85 miliar setiap tahun agar PLN tidak mengalami kerugian.
"Kondisi kelistrikan di Natuna menghambat pembangunan, tidak ada investor yang mau menanamkan modalnya, sektor pariwisata dan kelautan juga tidak dapat berkembang," kata Wakil Ketua DPRD Natuna Hadi Chandra dalam rapat dengar pendapat membahas permasalahan listrik Natuna di Komisi III DPRD Kepri, Kamis.
Tokoh masyarakat Natuna Sabarudin yang kerap memimpin aksi unjuk rasa di Kantor PLN Natuna mengatakan kondisi kelistrikan di Natuna semakin parah. Dalam sehari pemadaman listrik dilakukan empat sampai lima kali.
"Sehari listrik mati selama 8-12 jam. Barang-barang elektronik kami jadi rusak, dan tagihan listrik membengkak," ujarnya dalam rapat yang dihadiri pelaksana harian PLN Natuna, Manajer PLN Kepri kecuali Batam, anggota DPRD Natuna, Dinas Pertambangan dan Energi Kepri dan beberapa anggota Komisi III DPRD Kepri.
Sejak November 2014, kata dia masyarakat Natuna telah berulang kali berunjuk rasa menuntut PLN tidak melakukan pemadaman listrik. Namun pihak PLN Natuna tidak dapat berbuat apa-apa sehingga pemadaman listrik tetap berjalan.
"Tidak ditemukan solusi, karena itu kami minta Pemerintah dan DPRD Kepri turut membantu menyesaikan permasalahan ini," katanya.
Beberapa menit rapat berlangsung, Manajer PLN Kepri kecuali Batam Mayudin menyatakan kondisi kelistrikan di Natuna sudah kembali normal sejak tadi malam. PLN sudah memperbaiki jaringan listrik yang rusak akibat tertimpa pohon kelapa.
Namun pernyataan Mayudin dibantah oleh Rahayu Kritinawati, tokoh masyarakat Natuna yang ikut rapat tersebut. Dia menegaskan berdasarkan informasi yang disampaikan saudaranya di Natuna, pemadaman listrik masih terjadi tadi malam.
"Listrik masih padam tadi malam," katanya.
Mayudin mengatakan pemadaman listrik terjadi karena daya mampu pembangkit listrik 3,7 MW, sedangkan beban puncak 5,2 MW. Saat ini daya mampu pembangkit listrik mencapai 5,2 MW.
"Tidak ada cadangan listrik sehingga kalau ada kerusakan jaringan terpaksa dilakukan pemadaman listrik," katanya.
PLN berupaya menambah kapasitas listrik dengan memindahkan mesin pembangkit listrik 1 MW dari Belakang Padang, Batam ke Natuna, dan menyewa pembangkit listrik 1 MW. Namun kedua kegiatan itu gagal dilaksanakan tahun 2014.
"Tahun ini kami akan melakukan penyesuaian nilai proyek sebelum dilelang. Selain itu, kami berupaya agar dilakukan penambahan mesin pembangkit listrik 25 MW tahun ini," katanya.
Dia mengatakan jaringan listrik di Natuna terancam rusak pada musim angin utara. Hal itu disebabkan pohon kelapa sering tumbang dan menimpa jaringan listrik.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk memperhatikan permasalahan itu," katanya.
Terkait jaringan listrik yang rusak akibat tertimpa pohon kelapa itu, Sabarudin mengatakan permasalahan itu sudah pernah dibahas bersama PLN. Masyarakat bersedia menebang pohon yang dapat merusak jaringan listrik, namun PLN tidak memberi jawaban yang tegas.
"Hari ini juga bisa ditebang pohon-pohon yang dapat merusak jaringan listrik. Tapi apakah benar pemadaman yang terjadi selama ini hanya disebabkan oleh itu?" katanya. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
