Logo Header Antaranews Kepri

SMAN 1 Batam Tambah Tujuh Kelas Baru

Senin, 3 Agustus 2015 19:02 WIB
Image Print
Senin masuk semuanya. Kelas menggunakan ruangan yang ada dulu

Batam (Antara Kepri) - Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Batam Kepulauan Riau menambah tujuh kelas baru untuk mengakomodasi 276 anak yang mendaftar di luar sistem yang ditetapkan pemerintah, penerimaan siswa baru melalui dalam jaringan (online).

"Senin masuk semuanya. Kelas menggunakan ruangan yang ada dulu," kata Kepala Sekolah SMAN 1 Batam Muhammad Chaidir usai rapat bersama Wakil Wali Kota Batam dan ratusan orang tua siswa di Batam Kepulauan Riau, Senin.

Seyogyanya SMAN 1 Batam hanya menerima 216 siswa baru dalam tahun ajaran 2015-2016 sesuai dengan kapasitas sekolah. Sebanyak 216 siswa itu pun sudah terjaring melalui penerimaan siswa baru sistem dalam jaringan. Namun, kemudian, sebanyak 276 siswa mengaku juga diterima di SMA unggulan itu, meski tidak melalui jalur yang seharusnya.

Dengan begitu, pada tahun ajaran ini, SMAN Batam menerima 492 siswa baru.

Kepala Sekolah menyatakan untuk sementara waktu akan menggunakan ruang kesenian, ruang bahasa dan ruang lainnya demi menampung 276 siswa baru, selain siswa yang masuk melalui sistem dalam jaringan.

Wakil Wali Kota Batam, Rudi, yang hadir dalam rapat itu mengatakan penerimaan 276 siswa jalur istimewa itu tidak akan mengganggu 216 siswa yang masuk melalui jalur resmi.

"Yang 216 siswa tidak akan diotak-atik. Yang sisanya ini, perlu dibuat kebijakan," kata dia.

Ia mengatakan meski wajib belajar sembilan tahun tidak termasuk pendidikan SMA, namun pemerintah tetap berkewajiban menyediakan sekolah. Dan setiap anak Batam memiliki hak yang sama.

Wakil Wali Kota menegaskan, seluruh siswa yang masuk SMAN 1 harus diperlakukan sama, baik itu yang masuk melalui penjaringan dalam jaringan, maupun yang melalui akses istimewa.

Dalam kesempatan itu, Rudi membantah adanya siswa titipan.

"Saya tidak tahu itu," kata dia.

Sementara itu, sejumlah orang tua siswa yang anaknya lulus seleksi dalam jaringan, menolak perlakuan yang sama bagi anak yang masuk melalui sistem resmi dan sistem istimewa.

Seorang wali murid, Asman, menyarankan pemerintah membuat dua jam belajar, pagi dan sore. Namun, siswa yang lulus penjaringan dalam jaringan harus mendapatkan kelas pagi.

"Yang 276 diberikan bantuan, tapi tidak disamakan," kata dia.

Seorang siswa yang lulus seleksi dalam jaringan, Rafif mengatakan tidak keberatan bila seluruh siswa diterima di SMAN 1.

"Tidak apa-apa, saya jadi banyak teman," kata dia.

Ia juga tidak keberatan bila harus belajar bersama dengan siswa lain yang nilai rata-rata Ujian Nasional hanya lima. Padahal nilai rata-rata Rafif, sembilan.

"Tidak masalah, nanti kami bisa belajar bersama. Jadi sama-sama pintar," kata lulusan SMPN 3 itu.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Muslim Bidin menolak memberikan keterangan kepada media.

"Hari ini saya 'off the record'," kata Muslim. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026