Logo Header Antaranews Kepri

Tanjungpinang Belum Miliki Kuliner Khas

Kamis, 20 Agustus 2015 06:04 WIB
Image Print
Kedepan, pihaknya akan membuat media online untuk memasarkan hasil produk UKM di Tanjungpinang, sehingga mempermudah minat wisatawan untuk datang dan mendapatkan kuliner khas Tanjungpinang.

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Ibukota Provinsi Kepri, Tanjungpinang sampai saat ini belum memiliki produk kuliner khas daerah karena Tanjungpinang yang merupakan bagian dari rumpun Melayu memiliki ragam produk kuliner yang sama dengan kabupaten kota lainnya di Provinsi Kepri.

"Contohnya saja lakse atau batang buruk maupun kuliner lainnya di Tanjungpinang, memiliki kesamaan dengan daerah lain, meskipun mungkin namanya berbeda," kata Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Ekonomi Kreatif (Disperindag - Ekraf) Kota Tanjungpinang, Suyatno, Rabu.

Ia mengatakan, itu sebabnya menjadi permasalah, jika produk kuliner khas Tanjungpinang menjadi pertanyaan bagi sektor pariwisata lokal maupun internasional.

Ditengah permasalahan itu, Diperindag menempuh jalur rencana kerja yang dimulai dengan melakukan pendataan seluruh pelaku usaha kecil yang memiliki potensi kuliner dan memiliki kemampuan bertahan terhadap pangsa pasar.

"Setelah terdata, kami akan melakukan evaluasi terhadap permasalahan maupun potensi apa yang dimiliki pelaku usaha tersebut terhadap produk yang dihasilkan," papar Suyatno.

Dengan tujuan, memberikan solusi dan menggali potensi produk kuliner khas Melayu di Tanjungpinang yang akhirnya bakal menunjang sektor pariwisata.

Kuliner khas Tanjungpinang tersebut menjadi penting dengan desakan dibukanya jalur Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia pada Desember 2015.

Sementara kondisi usaha kecil Tanjungpinang, menurut Suyatno memiliki potensi serta kemampuan bertahan cukup baik menghadapi MEA.

"Saya lihat secara kasat mata, pelaku usaha kecil Tanjungpinang memiliki kemampuan untuk menghadapi MEA. Karena masih mampu bertahan dalam lingkup pasar lokal sampai saat ini," paparnya.

Kini, keberadaan dan hasil produknya pun, dinilai sudah berkembang dengan baik jika dibanding dulu.

Kedepan, pihaknya akan membuat media online untuk memasarkan hasil produk UKM di Tanjungpinang, sehingga mempermudah minat wisatawan untuk datang dan mendapatkan kuliner khas Tanjungpinang.

Diwawancara terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tanjungpinang, Riono mengatakan, potensi kuliner produk usaha kecil memang perlu dikerjakan terutama untuk menunjang sektor pariwisata Tanjungpinang kedepan.

Akan tetapi, jika gonggong yang dianggap sebagai kuliner khas Tanjungpinang, tanpa ada budidayanya maka lambat laut, potensi tersebut akan habis.

"Tanjungpinang sendiri belum ada upaya untuk membudidayakannya," tegas Riono.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah dicermati sehingga nanti akan ada upaya untuk membatasi pengambilan gonggong yang selama ini masih bebas.

"Kalau kuliner untuk "Go MEA", memang menjadi tantangan tersendiri bagi Pemko Tanjungpinang untuk memunculkan makanan khas Tanjungpinang kedepan," tegasnya. (Antara)

Editor: Evy R. Syamsir



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026