Selamat Jalan "Sang Untung Sabut"

id Selamat,Jalan,Sang,Untung,Sabut,gubernur,kepulauan,riau,kepri,muhammad,meninggal,dunia

Selamat Jalan "Sang Untung Sabut"

Almarhum Muhammad Sani (kanan) berbincang dengan Nurdin Basirun saat masih menjabat Bupati Karimun dalam satu acara di Tanjung Balai Karimun beberapa waktu lalu. (antarakepri.com/Rusdianto)

Ini kemenangan masyarakat. Mau saya hanya menjabat sehari, seminggu, sebulan, setahun atau dua tahun, yang penting saya sudah menanamkan dasar kepemimpinan ini untuk regenerasi
JUMAT sore tadi, riuh di salah satu kedai kopi di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, mendadak senyap ketika salah seorang pengunjung tempat itu berteriak histeris, "Pak Gubernur, meninggal dunia!"

Hampir seluruh pengunjung di kedai kopi itu memegang ponsel dan mencari tahu apakah informasi itu benar atau tidak.

Informasi itu ternyata benar setelah salah seorang jurnalis yang duduk di salah satu meja di kedai kopi tersebut meminta klarifikasi kepada Kepala Biro Humas dan Protokoler Kepri Heri Mokhrizal.

"Pak Sani meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo Jakarta sekitar pukul 15.00 WIB," kata Heri melalui pesan singkat ponsel.

"Sani Ayah Kita" subjek dalam jargon kampanye saat Pilkada Kepri 2015 sudah tiada.  

Sani lahir di Sungai Ungar, Kundur, Kabupaten Karimun pada 11 Mei 1942. Dia meninggalkan seorang istri, Aisyah dan tiga anak.

Saat dirawat di rumah sakit, istri dan anak-anaknya berada di rumah sakit. Jenazah Pak Sani akan diterbangkan ke Tanjungpinang, malam ini.
 
Almarhum sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Singapura sebelum dibawa ke Jakarta. Keputusan untuk dirawat di rumah sakit di Jakarta karena seharusnya malam ini Sani ikut rapat membahas kebijakan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam, Karimun, dan Bintan.

"Dalam kondisi sakit, Bapak (Sani, red.) masih ingin bekerja, melaksanakan tugas-tugasnya," kata Rini Fitrianty, putri almarhum.

Dalam akun media sosial, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla melayat almarhum di Rumah Sakit Abdi Waluyo.

Dua Jam

Sekitar 1,5 bulan lalu, dalam suatu kesempatan langka di Gedung Daerah Tanjungpinang, pewarta Antara berbincang dengan Sani selama sekitar dua jam. Saat itu Sani bercerita, dimulai dari hasil Pilkada Kepri 2015.

"Saya hanya berusaha, selebihnya Allah dan masyarakat yang menentukan (hasil pilkada, red.)," katanya kala itu.

Sani tidak salah memiliki dua kata "Untung Sabut" dalam buku yang diluncurkannya pada 14 Mei 2012. Sani memang pria beruntung, bertarung dalam pesta demokrasi tidak pernah kalah.

Buku setebal 319 halaman tersebut mengisahkan hidup Sani sejak kecil, ketika masih hidup susah bahkan pernah nyaris putus sekolah, diberikan kepada pewarta Antara.

"Isi buku ini diresapi, banyak nasihat, mudah-mudahan Anda bisa seperti saya," ucapnya tersenyum.

Ketika muda, dia pernah menjadi pembuat amplop dari kertas bekas di kantor Kecamatan Bintan Timur, Kepulauan Riau (dulu Provinsi Riau), tempat memulai karier di pemerintahan pada 1967-1969.

Selanjutnya, dia pernah menjadi Camat Mandau (1973-1976), Kabag Personalia Kantor Wali Kota Pekanbaru (1976-1978), menyelesaikan studi kesarjanaan di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta (1978-1980) kemudian  menjadi Camat Bintan Timur (1980-1982).

Sani juga pernah menjadi Wali Kota Administratif Tanjungpinang (1985-1993), Sekretaris Daerah Kodya Batam (1996-1999), Bupati Karimun (2001-2005), dan Wagub Kepri mendampingi Ismeth Abdullah (2005-2010).

Tahun 2010, Sani berpasangan dengan Soerya Respationo berhasil mengalahkan rival politiknya, kemudian pada Pilkada Kepri 2015, Sani berpasangan dengan Nurdin Basirun, sedangkan Soerya Respationo berpasangan dengan Ansar Ahmad.

Sani lagi-lagi menang. Kemenangan yang tidak disangka-sangka, karena dia tidak terlalu banyak turun ke lapangan dibandingkan dengan lawan politiknya.

Dia tidak terlalu berharap dapat menjabat sebagai gubernur sampai akhir masa jabatannya. Sani menyadari usianya yang sudah tua, dan tubuhnya yang tidak sekuat saat pertama memimpin Kepri.

"Ini kemenangan masyarakat. Mau saya hanya menjabat sehari, seminggu, sebulan, setahun atau dua tahun, yang penting saya sudah menanamkan dasar kepemimpinan ini untuk regenerasi," ujarnya.

Sani yang memiliki falsafah hidup bekerja, belajar, dan silaturahim dengan sepenuh hati. Falsafah itu selalu disampaikannya dalam berbagai kegiatan pemerintahan.

"Untung Sabut" diambil dari pepatah Melayu, yakni "Untung sabut timbul, untung batu tenggelam" yang menggambarkan perjalanan hidupnya seperti sabut yang terus mengapung dan timbul.

Sani pun diberi gelar Datok Setia Amanah oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri.

"Saya merasa Allah menyayangi saya. Dalam hidup saya dipenuhi keberuntungan sehingga sampai pada posisi sekarang," ujar Sani.

Penghargaan

Sani tidak pernah main-main memimpin Kepri. Dia pekerja keras, meski impiannya "menghubungkan" pulau-pulau di Kepri belum tercapai.

Sani di awal pemerintahannya fokus mengatasi permasalah listrik dan air. Selain itu, terus mendesak pemerintah pusat memberi bantuan kapal berukuran besar untuk Kepri dan membangun pelabuhan.

"Interkoneksi listrik Batam-Pulau Bintan, kapal yang berlayar ke pulau-pulau, pembangunan infrastruktur dasar di pesisir, pengentasan kemiskinan, pembangunan waduk di beberapa kawasan Pulau Bintan, dan membuka akses Natuna, Anambas, dan Lingga. Ini pekerjaan yang harus diselesaikan," katanya setelah dilantik sebagai Gubernur Kepri pada 12 Februari 2016.

Dalam berbagai kegiatan pemerintahan, Sani selalu mengatakan Pemerintah Kepri sudah mendapat 84 penghargaan, baik dari pemerintah pusat maupun dari organisasi atau lembaga.

Beberapa penghargaan yang telah diterima tersebut, di antaranya Penghargaan Pencapaian Sasaran Pembangunan Milenium (MDG's) Terbaik III pada 2013, Anugerah Pangripta Nusantara Utama Dalam Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah pada 2013 Tingkat Provinsi Terbaik II untuk kelompok B.

Penghargaan lainnya, Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah pada 2011 berada pada peringkat delapan nasional, Laporan Keuangan empat tahun berturut-turut (2011, 2012, 2013, dan 2014) berstatus WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), Anugerah Parahita Ekapraya pada 2012.

Selain itu, Anugerah Ki Hajar Award Khusus Kategori dalam pengembangan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) untuk pendidikan wilayah Kepulauan dan Perbatasan pada 2013, Kategori Dana Sharing Tertinggi APBD Tingkat Provinsi pada 2015

Penghargaan e-Procurement Award pada 2013, Penghargaan Teppa Award kategori provinsi dengan Penyerapan Keuangan Terbaik ke-4 pada 2013, Unit Layanan Pengadaan (ULP) Percontohan pada 2013, Penghargaan Terbaik Ketiga Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan pada 2012, Juara III MTQ Tingkat Nasional dan juara II STQ Nasional, Juara I MTQ Tingkat Nasional XXV di Batam Anugerah Bintang Maha Putra Utama. (Antara)

Editor: Rusdianto

Pewarta :
Editor: Kepulauan Riau
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar