
KTNA: Nelayan Tradisional Karimun Makin Terjepit

Keberadaan perusahaan-perusahaan di pesisir pantai sudah lama dikeluhkan nelayan, karena kerap mengotori perairan sehingga ikan-ikan pindah ke perairan lain
Karimun (Antara Kepri) - Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau Amirullah menilai, nelayan tradisional di wilayah setempat makin terjepit dengan cuaca buruk dan mahalnya harga kebutuhan pokok.
"Bulan puasa tahun ini benar-benar masa-masa yang sulit bagi nelayan sampan dan kapal pompong 2 GT ke bawah. Kebanyakan mereka tidak melaut karena cuaca buruk dalam sepekan terakhir," kata dia di Tanjung Balai Karimun, Jumat.
Amirullah menuturkan, kondisi tersebut membuat nelayan nyaris kehilangan mata pencaharian karena tidak bisa ke laut dengan kondisi gelombang besar dan hujan badai yang dapat menenggelamkan sampan atau pompong.
Sampan atau pompong yang mereka gunakan, tutur dia, tidak mungkin berlayar dalam kondisi cuaca yang sering berubah mendadak ekstrem.
Di sisi lain, lanjut Amir, sebagian besar harga kebutuhan bahan pokok melonjak naik sebelum datangnya Bulan Puasa, sehingga makin menyulitkan nelayan yang berhenti melaut karena cuaca di laut kurang bersahabat.
"Memang masih ada nelayan yang nekad ke laut, tapi mereka harus menyabung nyawa dengan cuaca seperti belakangan ini, dalam dua hari terakhir angin puting beliung menyapu perairan dan kawasan permukiman di pinggir laut," tuturnya.
Kondisi seperti itu, kata dia, membuat sebagian nelayan berusaha mencari pekerjaan lain, seperti buruh angkut di pelabuhan, bercocok tanam atau kerja serabutan sebagai tukang bangunan.
Dia mengatakan, nelayan tradisional, khususnya di Pulau Karimun Besar sudah lama terjepit dengan beralihnya sebagian besar kawasan pesisir sebagai kawasan industri galangan kapal yang berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan tradisional.
"Keberadaan perusahaan-perusahaan di pesisir pantai sudah lama dikeluhkan nelayan, karena kerap mengotori perairan sehingga ikan-ikan pindah ke perairan lain," ucap dia.
Sementara itu, tutur dia, nelayan juga kesulitan menangkap ikan agak ke tengah laut, karena aktivitas labuh jangkar kapal di perairan Ship to Ship (STS) Transfer.
Untuk menangkap ikan di perairan seperti sekitar Pulau Takong Hiu, tuturnya, jelas sangat berisiko karena perairan berbatasan Selat Malaka itu ombaknya ganas, tidak mungkin bisa dilayari sampan dan pompon kecil.
"Berbagai persoalan yang dihadapi nelayan, seperti saat ini, perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, agar kehidupan mereka tidak terus terjepit," katanya.
Berdasarkan pantauan, sampan-sampan dan pompong nelayan banyak yang sandar di pinggir pantai Kolong hingga Kecamatan Meral.
Seorang nelayan pompong Munsir mengatakan, dirinya sudah lima hari tidak ke laut karena cuaca di laut tidak bersahabat.
"Tidak mungkin ke laut dengan cuaca seperti ini, pompong bisa terbalik diterjang ombak, apalagi angin puting beliung sering muncul dalam beberapa hari ini," ucap warga pinggir laut Baran ini.
Munsir mengaku hanya duduk diam di rumah menunggu cuaca membaik. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, menurut dia, diperoleh dari penghasilan istrinya yang berjualan kecil-kecilan.
"Kalau istri tidak jualan, mungkin saya harus cari kerja lain selama kondisi cuaca seperti ini. Penghasilan dari jualan memang tidak seberapa, apalagi harga-harga kebutuhan sehari-hari melonjak naik, tapi saya bersyukur masih bisa makan bersama istri dan tiga anak yang masih kecil-kecil," ucapnya. (Antara)
Editor: Biqwanto Situmorang
Pewarta : Rusdianto
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
