Logo Header Antaranews Kepri

Dukungan Partai Pengusung Terpecah Soal Cawagub Kepri

Selasa, 28 Februari 2017 19:37 WIB
Image Print
Keputusan dalam rapat itu jika dipolemikkan partai pengusung akan memperlambat proses pemilihan cawagub. Ini baru di bagian internal partai pengusung, belum lagi menghadapi dinamika politik di DPRD Kepri saat pemilihan cawagub

Tanjungpinang (Antara Kepri) - Lima partai pengusung M Sani (almarhum)-Nurdin Basirun pada Pilkada Kepulauan Riau 2015 mulai terpecah setelah dua nama calon wakil gubernur diserahkan kepada DPRD setempat.

Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kepri Hotman Hutapea di Tanjungpinang, Selasa, mendesak seluruh partai pengusung menghargai hasil rapat penetapan Calon Wakil Gubernur Kepulauan Riau di Graha Kepri, Batam pada 27 Desember 2016.

"Keputusan dalam rapat itu jika dipolemikkan partai pengusung akan memperlambat proses pemilihan cawagub. Ini baru di bagian internal partai pengusung, belum lagi menghadapi dinamika politik di DPRD Kepri saat pemilihan cawagub," katanya.

Seharusnya, menurutnya pengurus masing-masing partai pengusung di Kepri menghormati keputusan bersama tersebut, karena mereka mewakili pengurus pusat.

Hotman, yang juga Bendahara Partai Demokrat Kepri mengaku tidak ikut dalam rapat penetapan cawagub Kepri. Namun ia berdiskusi dengan Gubernur Nurdin Basirun sebelum dan sesudah rapat tersebut sehingga mengetahui proses penetapan cawagub.

Ia tidak membeberkan salah satu nama cawagub Kepri yang menjadi pesaing Isdianto yang diusung partai pengusung untuk dipilih anggota legislatif.

"Ada Raja Ariza (Asisten I Pemprov Kepri) yang ikut dalam rapat itu, sebagai notulen. Tanya saja dia, pasti tahu," ucapnya.

Sementara informasi yang diterima Antara, Gubernur Nurdin sudah menyerahkan dua nama cawagub ke DPRD Kepri yakni Isdianto dan Agus Wibowo. Isdianto, adik kandung dari M Sani, mantan Gubernur Kepri, yang kini menjabat sebagai pejabat eselon II di Pemprov Kepri, sedangkan Agus Wibowo menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Bintan dan Ketua Partai Demokrat Bintan.

Menurut dia, dinamika politik yang terjadi di internal partai pengusung Sani (almarhum)-Nurdin Basirun pada Pilkada Kepri 2015 disebabkan empat nama yang diusulkan sebagai cawagub berbeda.

Usulan PPP dapat dinilai batal lantaran tiga nama yang diusulkan yakni Isdianto, Mustafa Widjaja dan Fauzi Bahar, padahal dalam ketentuan yang berlaku partai pengusung hanya diperbolehkan mengusulkan dua nama.

Partai Demokrat mengusulkan Isdianto-Agus Wibowo, Partai Kebangkitan Bangsa mengusulkan Isdianto dan Mustafa Widjaya, Gerindra mengusulkan Isdianto dan Fauzi Bahar dan Partai Nasdem yang dipimpin Nurdin Basirun mengusulkan Isdianto dan Reni Fitrianti, putri dari HM Sani yang juga kader Demokrat.

"Tidak mungkin Agus Wibowo minta surat dukungan dari partai pengusung lainnya. 'Kan sudah rapat, sudah diputusan oleh pengurus partai pengusung di Kepri. Mereka 'kan mewakili pengurus pusat," tegasnya.

Dia juga meminta seluruh partai pengusung yang tidak setuju dengan dua nama cawagub yang diusulkan Gubernur Nurdin kepada DPRD Kepri memberikan alasan yang jelas, tidak hanya sekadar menolak.

"Saya mau dengar alasannya. Mari kita buka-bukaan," ujarnya.

Diukur dari kekuatan politik partai, Hotman mengatakan DPRD Kepri itu dilihat dari jumlah kursi atau jumlah suara. PDIP sebagai partai yang terbanyak mendapatkan kursi di DPRD Kepri pada Pemilu 2014.

Di internal partai pengusung, Partai Demokrat terbanyak mendapatkan kursi, dibanding PPP, Gerindra, Nasdem dan PKB.

"Agus Wibowo itu diusung oleh Partai Demokrat, yang memiliki jumlah kursi terbanyak dibanding partai pengusung lainnya. Jika hasil rapat tidak dihormati, mari dihitung dari dukungan," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026