Selasa, 24 Oktober 2017

Dian Ariani Mengajar di Garis Depan

id dian,ariani,mengajar,garis,depan,bintan,kepulauan,riau
Dian Ariani Mengajar di Garis Depan
Dian Ariani (antarakepri.com/Saud)
Saya baru tau ternyata ada pulau yang jauh dan terpencil di Kabupaten Bintan ini, yaitu Tambelan
BERKHAYAL tentang daerah yang dikategorikan sebagai Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T) mungkin memberikan banyak persepsi. Mulai dari hal positif, sampai pada  hal yang mungkin tabu bagi pendatang di daerah tersebut.

Tidak heran, terka menerka situasi di daerah tergolong asing itu sering terpintas. Terutama bagi seorang gadis yang harus menjalani tugas sebagai  tenaga pengajar di daerah tersebut. Seperti yang dialami Dian Ariani kelahiran Pekanbaru 21 Mei 1990.

Putri sulung dari dua bersaudara pasangan Ariandi (55) Sri Lestari (50) merupakan 1 dari 5 Guru Garis Depan (GGD) yang bertugas di SMA Negeri 1 Kecamatan Tambelan Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan Riau pasca dilepaskan secara resmi oleh Gubernur Kepri Nurdin Basirun di Hotel PIH, Batam (4/8).

Alumni Universitas Riau 2012 silam tersebut mengaku, awalnya memilih Bintan sebagai tujuan mengajar melalui jalur GGD dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu diperkirakan sebatas Pulau Bintan. Akan tetapi, ketika pilihan itu bulat ternyata secara spesifik, lokasi Bintan yang di maksud adalah Pulau Tambelan.

"Saya baru tau ternyata ada pulau  yang jauh dan terpencil di Kabupaten Bintan ini, yaitu Tambelan," ungkap guru Biologi tersebut.

Meski Tambelan tergolong daerah baru baginya. Namun, gadis berjilbab ini tetap bersemangat sebab menjelajah NKRI telah menjadi niat lama bagi penggiat travelling dan membaca. Sebab itu, penugasan ke Tambelan dianggap sebagai bagian dari rangkaian perjalanan hidupnya.

Menurut alumni Sarjana Mengajar Daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T), dimanapun lokasi penempatannya,  selalu dianggap positif. Sebab, ia yakin takdir, jodoh dan maut ditentukan oleh Allah.

Pandangan positif juga ditanggapinya pada program GGD sebagai bagian dari Nawacita Presiden Joko Widodo. Ia berpendapat bahwa daerah terdepan atau 3T juga memiliki hak yang sama dengan daerah lain, yaitu hak untuk mendapatkan segala kemajuan zaman, infrastruktur dan sumber daya manusia yang lebih baik.

"Artinya, bukan hanya yang berada dekat dengan ibu kota saja yang berhak untuk maju, tapi daerah terdepan atau yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat memiliki hak yang sama, salah satunya peningkatan SDM," ujar penyandang S1 dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Unri.

Setelah melewati hampir 3 bulan di SMA Negeri 1 Tambelan, Dian mengaku sebenarnya pendidikan di kecamatan tersebut dinilai cukup baik, dengan kata lain secara umum sebagai daerah 3T  Tambelan memiliki kualitas pendidikan yang berada di atas rata-rata sekolah di daerah 3T lainnya.

"SDM yang ada di Tambelan saat ini sudah termasuk baik, tentunya harus ditingkatkan lagi. Hal itu terlihat dari tingginya minat belajar siswa di SMA Negeri 1 Tambelan," ujarnya.

Hanya saja, Dian berpendapat disiplin guru yang mesti harus ditingkatkan. Dengan cara meningkatkan pengawasan langsung dari instansi terkait. Sehingga proses belajar dapat berlangsung optimal.

"Semua berpulang kembali kepada profesionalitas guru sebagai pengajar dan pendidik," tegasnya.

Di sisi lain, ketersedian buku mata pelajaran atau referensi lain untuk siswa dan guru perlu ditambah. Karena yang ia lihat, selain jarak Tambelan yang jauh dari ibu kota kabupaten, koneksi internet juga sulit untuk mendapatkan tambahan pengetahuan dari perkembangan teknologi.

"Perpustakaan sekolah bisa dikatakan tidak ada, karena masih belum ada ruangan khusus untuk perpustakaan," ungkapnya.

Kondisi tersebut mengakibatkan tingginya minat belajar siswa harus terhambat dengan fasilitas yang ada di sekolah.

Menurut Dian, Tambelan sudah memiliki fasilitas internet. Tetapi daya hubung internet tersebut masih sangat minim. Sehingga, jangankan untuk mengakses web dengan resolusi besar, untuk membuka halaman google saja sangat sulit.

Bagi Dian, berkiprah di Tambelan sebagai daerah 3T menjadi suatu tantangan tersendiri. Ia berpesan kepada generasi muda berikutnya untuk berani mencoba sesuatu yang positif dengan melakukan inovasi.

"Memang sangat sulit bergerak dari zona nyaman, tetapi tidak ada salahnya jika hal itu dilakukan untuk tugas mulia sebagai seorang guru demi mencerdaskan kehidupan bangsa dari pesisir NKRI," tegasnya.

Menurut Dian, selama guru berkarir untuk memanusiakan manusia, maka secara guru tersebut tetap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. (Antara)

Editor: Rusdianto


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga