Batam gunakan scada pantau air bersih hinterland

id Batam,scada,air bersih

Tingkat kebocoran kita masih tinggi, rata-rata kita lebih kurang 35 persen. Kalau dibandingkan yang ada di Batam, khususnya yang dikelola ATB, kita memang masih jauh ketinggalan. ATB itu bisa tekan sampai 20 persen
Batam (Antaranews Kepri) - Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau menggunakan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) untuk memantau pelayanan air bersih di pulau-pulau penyangga atau hinterland.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Batam, Suhar di Batam, Sabtu, mengatakan dengan sistem itu, maka pemerintah bisa mengontrol kebocoran distribusi bersih, mempercepat penanganan pengaduan layanan dan menekan biaya produksi.

"Untuk atasi tiga hal tersebut kami mencoba perbaiki sistem secara auto. Proses jarak jauh yang biasa dipakai industri skala besar bisa dipantau dari layar secara auto. Kami harap bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya sehingga pengelolaan air bersih bisa efisien," jelasnya.

Pemerintah kota bertanggung jawab atas pelayanan pengadaan dan penyaluran air bersih di pulau-pulau penyangga. Berbeda dengan pulau utama, yang dilayani perusahaan swasta PT Adhya Tirta Batam, atas konsensi bersama pengelola lahan, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Pelayanan Bebas Batam.

Ia mengaku, bila dibandingkan pelayanan air bersih di pulau utama, kebocoran distribusi di pulau penyangga lebih besar.

"Tingkat kebocoran kita masih tinggi, rata-rata kita lebih kurang 35 persen. Kalau dibandingkan yang ada di Batam, khususnya yang dikelola ATB, kita memang masih jauh ketinggalan. ATB itu bisa tekan sampai 20 persen," tambah dia.

Dengan SCADA, maka diharapkan dapat menekan tingkat kebocoran air bersih.

Kemudian, biaya produksi air bersih pulau penyangga juga besar, karena keterbatasan sumber daya air di pulau-pulau kecil.

Menurut dia, biaya produksi air bersih di sana mencapai Rp19.000 per meter kubik. Sedangkan tarif yang harus dibayarkan masyarakat kurang dari itu. Sayang, dia enggan menyebutkan besaran harga yang dikenakan.

Pemerintah, kata dia, masih memberikan subsidi untuk biaya produksi hingga distribusi air bersih kepada masyarakat, dan jumlagnya relatif besar.

Dengan penerapan SCADA, maka diharapkan dapat menekan biaya produksi dari sisi beban SDM, karena dengan Scada, tenaga manusia yang dibutuhkan lebih sedikit.

"Sebenarnya salah satu komponen biaya ini adalah tenaga. Dengan adanya SCADA ini tidak perlu banyak-banyak," lanjut dia.

Lalu, SCADA juga bisa mempercepat penanganan pengaduan dari pelanggan. Menurut dia, selama ini pengaduan pelanggan masih lambat karena dikerjakan sevara manual.

"Dengan sistem baru ini pelayanan pengaduan bisa ditingkatkan kualitasnya," ujar dia.
Pewarta :
Editor: Rusdianto Syafruddin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar