32 peserta ramaikan Lomba "Nyuloh"

id nyuloh, natuna, funtouristic festival natuna, budaya, pariwisata

32 peserta ramaikan Lomba "Nyuloh"

Peserta nyuloh saat berfoto bersama (cherman)

Ranai (ANTARA) - Lomba "nyuloh" dalam rangkaian Funtouristic Festival Natuna 2019 diikuti 32 peserta dari berbagai daerah di Natuna yang berlangsung di Pantai Sahi, Sujung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna, Selasa, (30/7) malam.



"Antusias para peserta luar biasa, jauh-jauh bersedia datang ke sini," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Natuna, Hardinansyah.



Perlombaan dilaksanakan, disamping ikut memeriahkan Funtouristic Festival, kegiatan tersebut juga untuk melestarikan budaya masyarakat Natuna.



Nyuloh merupakan tradisi masyarakat Natuna tidak hanya para nelayan, namun berlaku bagi siapa saja. Hal itu bagian dari kebiasaan warga saat memburu ikan, udang, kepiting, kerang-kerangan pada saat malam hari.



Nama lain dari nyuloh adalah berkarang saat air laut sedang surut. Menurut Hardinansyah, kegiatan tersebut bisa dijadikan atraksi wisata Natuna.



"Perlombaan ini rutin untuk melestarikan, dan menjadikan nyuloh bagian dari paket wisata," ungkapnya.



Salah satu peserta,Toni,  mengatakan kegiatan nyuloh perlu dilakukan agar kebiasaan tersebut tidak hilang.



"Tidak hanya nelayan, bahkan banyak yang hobi nyuloh ini justru para pegawai-pegawai kantoran," ucapnya.



Menurut dia, nyuloh merupakan kegiatan ramah lingkungan, menangkap ikan dengan alat sederhana hanya menggunakan tombak yang dikenal dengan sebutan "singkap".



Singkap adalah tombak yang terbuat dari besi runcing terdiri dari 3 sampai dengan 4 buah dan dirangkaikan dengan sebuah bambu sepanjang 2 hingga 3 meter.



Selain itu, alat pendukung adalah lampu penerangan serta tempat penampung ikan bisa berupa keranjang atau lainnya.



Kegiatan nyuloh dilakukan dengan berjalan kaki sepanjang pesisir pantai dan antara karang untuk memburu ikan. Nyuloh tidak hanya bagi para kaum laki-laki saja, namun juga berlaku  bagi para perempuan disana.



"Dulu pakai lampu setrongkeng (petromak) saat ini tidak lagi, cukup menggunakan senter kepala saja," kata Toni.



Kembali menurut Kepala Dinas Pariwisata, kegiatan nyuloh harus rutin dilaksanakan, iya berharap menjadi atraksi yang bisa dijual sebagai paket wisata oleh para penyedia paket wisata di Natuna.



"Kita berharap ini menjadi bagian paket dari wisata, seperti permainan gasing, nyuloh dan akan muncul lagi atraksi lainnya, karena itu setiap tahun terus kita evaluasi semua kegiatan agar menjadi satu kesatuan dari program Geopark," imbuhnya.

Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar