Logo Header Antaranews Kepri

Pengamat prediksi ada tiga kandidat bertarung pada Pikada Kepri

Sabtu, 20 Juni 2020 06:17 WIB
Image Print
Pengamat politik, Endri Sanopaka (Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Pengamat politik, Endri Sanopaka, memprediksi tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur akan bertarung pada Pilkada Kepulauan Riau 2020.

"Tiga pasangan calon itu tergambar dari figur yang muncul dan kursi yang diperoleh masing-masing partai berdasarkan hasil Pemilu 2019," kata Endri, di Tanjungpinang, Jumat.

Endri yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji Tanjungpinang mengatakan di DPRD Kepri ada dua kekuatan besar yakni PDIP dan Golkar. Kedua partai itu masing-masing berhasil memperoleh delapan kursi pada Pemilu 2020.

PDIP sudah memutuskan Soerya Respationo sebagai bakal calon gubernur, dan berkoalisi dengan Partai Gerindra dan PKB. Pasangan Soerya yang digadang-gadangkan yakni Iman Setiawan, Wakil Ketua DPRD Batam yang baru-baru ini diangkat menjadi Ketua Gerindra Kepri, menggantikan Syahrul (almarhum).

Sementara Golkar, nama yang digadang-gadangkan yakni Ansar Ahmad. Ansar merupakan mantan Bupati Bintan dua periode, mantan Ketua DPD Golkar Kepri, yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR.

Golkar dan PDIP hanya membutuhkan partai yang berhasil mendapatkan satu kursi di DPRD Kepri untuk mengusung kandidat pilkada.

"Sangat disayangkan kalau Golkar dan PDIP berkoalisi atau mengulang koalisi pada Pilkada Kepri 2015. Ini kurang menarik jika terjadi kalau dilihat dari aspek demokratis, meski hal itu dapat saja terjadi," ucapnya.

Nama lain yang muncul yakni Isdianto, yang saat ini menjabat sebagai Plt Gubernur Kepri. Isdianto kemungkinan tidak terlalu sulit mendapatkan "perahu" yang mengantarkannya pada hari pembukaan pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur di Kantor KPU Kepri, karena memiliki kekuasaan.

Isdianto memiliki cukup banyak pilihan seperti meminta dukungan antara lain dari PKS, Nasdem, Demokrat maupun Hanura. Isdianto digadang-gadangkan berpasangan dengan Marlin, istri dari Wali Kota Batam, Rudi.

Secara politik, Partai Nasdem tentu harus memikirkan dampak positif dan negatifnya, bukan hanya untuk kemenangan Pilkada Kepri 2020, melainkan juga pilkada selanjutnya. Apalagi Batam merupakan barometer kemenangan Pilkada Kepri sehingga Rudi seperti "gula yang diincar semut".

"Semua kemungkinan dapat terjadi, termasuk Rudi yang bakal muncul pada Pilkada Kepri, bukan Marlin," katanya.

Kemudian ada pula Ismeth Abdullah, mantan Gubernur Kepri dan Huzrin Hood yang berkeinginan mencalonkan diri pada Pilkada Kepri 2020. Peluang mereka juga cukup besar, tergantung dari hasil negosiasi dengan partai pengusung.

"Saya pikir cukup banyak figur yang muncul, namun realitasnya nanti kemungkinan hanya tiga pasang calon," ucapnya.

Sejumlah politisi pun memprediksi tiga poros akan terbangun pada Pilkada Provinsi Kepulauan Riau tahun 2020, karena ada dua partai besar seperti Demokrat dan PKS yang potensial membentuk poros ketiga tersebut.

Sekretaris Partai Demokrat Kepri, Husnizar Hood, mengatakan, pertarungan politik antara Soerya Respationo, bakal calon gubernur yang diusung koalisi PDIP, PKB dan Gerindra dengan Isdianto sudah mulai tampak jelas.

Isdianto yang saat ini menjabat sebagai Plt Gubernur Kepri belum berpartai setelah keluar dari PDIP beberapa bulan lalu.

Namun potensi muncul kandidat baru yang diusung koalisi Partai Demokrat dan PKS cukup besar.

"Golkar, Nasdem dan Hanura potensial berkoalisi untuk mengusung Isdianto. Namun kondisi ini pun masih cair. Artinya, dinamika politik dapat terjadi menjelang pendaftaran pasangan calon," katanya, yang juga mantan Wakil Ketua DPRD Kepri.

Sementara itu, fungsionaris Partai Golkar Kepri, Asmin Patros memprediksi tiga pasangan calon akan muncul pada Pillada Kepri 2020. Namun poros ketiga itu potensial dibangun oleh koalisi Partai Golkar, yang mengusung Ansar Ahmad.

DPD Partai Golkar Kepri merekomendasikan Ansar Ahmad sebagai calon gubernur. Namun untuk pasangan Ansar masih belum proses negosiasi.

"Kalau dipaksakan empat pasang calon, namun yang lebih realistis tiga pasang calon," tuturnya.

Asmin mengemukakan koalisi Golkar dengan PDIP kemungkinan kecil terbangun. Hal itu disebabkan Soerya Respationo, calon gubernur yang diusung PDIP, Gerindra dan PKB sudah menetapkan pendampingnya.

"Potensi yang kecil bisa membesar, tergantung kondisi politik. Karena itu, sebelum pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur, segala sesuatu berpeluang terjadi," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Evi Ratnawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026