Tips memilih tahu bebas formalin dari Dinkes Bogor
Sabtu, 11 Juni 2022 5:49 WIB
Pabrik tahu yang menggunakan bahan formalin di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/6/2022). (ANTARA/M Fikri Setiawan)
Kabupaten Bogor (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memberikan tips bagi masyarakat untuk memilih produk tahu yang bebas dari campuran bahan formalin.
"Secara fisik tidak bisa dibedakan, kalau yang benar (tanpa formalin) disimpan dua hari sudah hancur. Kalau tahu berformalin lebih dari dua hari masih bagus fisiknya," ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Bogor, dr Intan Widayati saat mendampingi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito serta pejabat perwakilan dari Polda Jawa Barat di pabrik tahu yang berlokasi di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Bogor, Jumat (10/6).
Menurutnya, tahu dengan kandungan formalin cenderung lebih utuh ketika disimpan. Teksturnya akan semakin keras dan tak berjamur ketika disimpan lebih dari dua hari.
Kemudian, masyarakat dapat lebih mudah untuk membedakan tahu berformalin jika kandungan formalinnya banyak. Karena, tahu tersebut akan mengeluarkan aroma obat-obatan.
Dr Intan juga meminta masyarakat tak hanya waspada memilih tahu bebas formalin. Pasalnya, formalin juga kerap digunakan untuk menggunakan bahan pangan lainnya oleh orang-orang tak bertanggung jawab, seperti mie, agar-agar campuran sop buah, dan bakso.
"Harusnya memang (formalin) tidak dijual bebas. Karena termasuk B3 (bahan berbahaya dan beracun), salah satunya untuk pengawetan mayat," terang dr Intan.
Ia membeberkan beberapa dampak buruk bagi tubuh manusia jika mengonsumsi formalin, yaitu mulai dari gangguan pencernaan hingga muntah-muntah. Kemudian, dampak jangka panjangnya bisa merusak organ tubuh. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Bogor, dr Intan Widayati (kiri) di pabrik tahu yang menggunakan bahan formalin di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/6/2022). ANTARA/M Fikri Setiawan
"Secara fisik tidak bisa dibedakan, kalau yang benar (tanpa formalin) disimpan dua hari sudah hancur. Kalau tahu berformalin lebih dari dua hari masih bagus fisiknya," ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Bogor, dr Intan Widayati saat mendampingi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Penny K Lukito serta pejabat perwakilan dari Polda Jawa Barat di pabrik tahu yang berlokasi di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Bogor, Jumat (10/6).
Menurutnya, tahu dengan kandungan formalin cenderung lebih utuh ketika disimpan. Teksturnya akan semakin keras dan tak berjamur ketika disimpan lebih dari dua hari.
Kemudian, masyarakat dapat lebih mudah untuk membedakan tahu berformalin jika kandungan formalinnya banyak. Karena, tahu tersebut akan mengeluarkan aroma obat-obatan.
Dr Intan juga meminta masyarakat tak hanya waspada memilih tahu bebas formalin. Pasalnya, formalin juga kerap digunakan untuk menggunakan bahan pangan lainnya oleh orang-orang tak bertanggung jawab, seperti mie, agar-agar campuran sop buah, dan bakso.
"Harusnya memang (formalin) tidak dijual bebas. Karena termasuk B3 (bahan berbahaya dan beracun), salah satunya untuk pengawetan mayat," terang dr Intan.
Ia membeberkan beberapa dampak buruk bagi tubuh manusia jika mengonsumsi formalin, yaitu mulai dari gangguan pencernaan hingga muntah-muntah. Kemudian, dampak jangka panjangnya bisa merusak organ tubuh. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Bogor, dr Intan Widayati (kiri) di pabrik tahu yang menggunakan bahan formalin di Desa Waru Kaum, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/6/2022). ANTARA/M Fikri Setiawan
Pewarta : M Fikri Setiawan
Editor : Yuniati Jannatun Naim
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kapolri usulkan Bintang Bhayangkara untuk Meri Hoegeng bentuk penghormatan
04 February 2026 14:22 WIB
Presiden ingatkan pimpinan BUMN lama berpotensi dipanggil Kejaksaan jika ada penyimpangan
02 February 2026 15:55 WIB
BGN klarifikasi soal video MBG tidak sesuai standar yang beredar di medsos
21 January 2026 15:06 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Enam desa di Kepri jadi sasaran proyek penguatan ekonomi biru berbasis alam
11 February 2026 6:18 WIB