Tanjungpinang (ANTARA) - Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November menjadi momentum bagi warga Indonesia untuk mengenang jasa para pejuang bangsa dan negara yang telah mendahului kita untuk menghadap Sang Khalik.

Mereka yang bergelar pahlawan nasional adalah orang-orang yang oleh Pemerintah Republik Indonesia dianggap sangat berjasa bagi bangsa dan negara ini. Masih banyak pahlawan lainnya yang juga berjasa besar terhadap bangsa ini, namun jejak dan kiprah sebagian dari mereka tidak tercatat dalam sejarah.

Maka itu, tak ada salahnya pada momentum penting ini masyarakat, terutama generasi muda, mengetahui nama-nama pahlawan nasional, minimal di lingkup daerah masing-masing. Sebagai contoh, pahlawan nasional dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Sekretaris Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Cabang Kepri, Dedi Arman, meminta anak-anak muda mengenali daftar pahlawan nasional yang berasal dari daerah tersebut.

Sampai saat ini, tercatat ada tiga pahlawan nasional dari Kepri, yaitu Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, dan Sultan Mahmud Riayat Syah.

Generasi muda hari ini juga diharapkan mau tahu lebih jauh di mana makam ketiga pahlawan itu termasuk silsilah mereka.

Ketiganya dari Kerajaan Riau Lingga yang kemudian dibubarkan oleh Belanda pada tahun 1913. Mereka pernah punya kerajaan besar yang membawahi tiga negara. Jadi sudah sewajarnya kalau warga berbangga dengan tiga leluhur hebat itu.

Dengan mengenali siapa pahlawan nasional asal Kepri, maka para pemuda bisa meneladani semangat dan nilai-nilai perjuangan dari para pahlawan tersebut. Raja Haji dengan sikap heroiknya. Raja Ali Haji, pahlawan bahasa, lalu Sultan Mahmud Riayat Ayah dengan gerilya peperangan laut.

Ketiganya diganjar pahlawan nasional dari Pemerintah berdasarkan sumbangsih di bidang masing-masing untuk kemerdekaan Tanah Air tercinta yang dinikmati bersama-sama hari ini.

Raja Haji Fisabilillah terlebih dulu menerima gelar apahlawan Nasional pada tahun 1997, disusul Raja Ali Haji tahun 2004, dan Sultan Mahmud Riayat Syah tahun 2018.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap ketiganya, Pemerintah Pusat melalui peraturan presiden (perpres) memberikan santunan sebesar Rp50 juta per tahun kepada zuriah masing-masing.

Selain itu, Pemerintah juga berperan aktif menjaga serta merawat makam ketiga tokoh tersebut sehingga sekarang menjadi salah satu destinasi wisata bersejarah.

Makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji terletak di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, sedangkan makam Sultan Mahmud Riayat Syah berada di Daik, Kabupaten Lingga.

Makam ketiga pahlawan dari Bumi Tanah Melayu itu kerap diziarahi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri. Termasuk para pejabat daerah hingga pusat yang datang berkunjung ke wilayah tersebut.


Profil

Sesuai urutannya, Raja Haji Fisabilillah ialah sosok pertama yang menerima gelar pahlawan nasional dari Kepri.

Ia lahir di Kota Lama, Ulu Riau, pada 1725 dan wafat di Teluk Ketapang, Melaka, Malaysia, 18 Juni 1784. Ia dimakamkan di Pulau Penyengat Inderasakti, Kota Tanjungpinang.

Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Tanjung Pinang, Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah, dan salah satu masjid yang ada di Selangor, Malaysia.

Raja Haji dikenal juga sebagai Raja Haji Marhum Teluk Ketapang adalah (Raja) Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga-Johor-Pahang IV. Ia terkenal dalam melawan pemerintahan Belanda dan berhasil membangun Pulau Biram Dewa di Sungai Riau Lama.

Karena keberaniannya, Raja Haji Fisabililah juga dijuluki atau dipanggil sebagai Pangeran Sutawijaya (Panembahan Senopati) di Jambi.

Ia gugur pada saat melakukan penyerangan pangkalan maritim Belanda di Teluk Ketapang, Melaka, pada tahun 1784. Jenazahnya dipindahkan dari makam di Melaka ke Pulau Penyengat oleh anaknya, Raja Ja’afar (YDM) Riau VI.

Kemudian, Raja Ali Haji lahir di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepri, pada tahun 1808 dan meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga pada tahun 1873. Ia adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.

Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku pedoman bahasa, buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan ditetapkan sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia.

Mahakarya Raja Ali Haji yaitu Gurindam Dua Belas tahun 1847, menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berupa kitab pengetahuan bahasa, yaitu Kamus Bahasa Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara.

Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu.

Selanjutnya, Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) lahir pada tanggal 24 Maret 1756. Mahmud Syah III adalah anak bungsu dari Sultan Johor ke-13, Abdul Jalil Muazzam Syah dengan istri keduanya, Tengku Puteh.

SMRS jadi sultan saat masih belia. Sepanjang hidupnya, ia aktif dalam melawan Belanda. Strategi gerilya laut yang dikembangkannya melawan Belanda menjadikan sosok ini sebagai lawan yang ulet bagi Belanda.

SMRS adalah Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga dengan wilayah taklukannya kini menjadi tiga buah negara yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Nama SMRS diabadikan menjadi nama Lapangan Sepakbola di Daik, Kabupaten Lingga, dan dipakai untuk nama masjid baru yang sangat besar di Sagulung, Kota Batam.

Sempena Hari Pahlawan tahun 2023, tak ada salahnya masyarakat Indonesia, khususnya Kepri, bersama-sama mengenang sekaligus mendoakan para pahlawan, agar amal, ibadah, dan perjuangan mereka diterima Allah Swt. 






 

Pewarta : Ogen
Editor : Angiela Chantiequ
Copyright © ANTARA 2024