Hamas: Pasukan siap hadapi perang jangka panjang dengan Israel
Jumat, 17 November 2023 10:35 WIB
Arsip - Sejumlah warga mengangkut para korban dari sebuah gedung yang hancur akibat serangan Israel di Kota Rafah di Jalur Gaza bagian selatan, Selasa (17/10/2023). ANTARA/Xinhua/Khaled Omar/tm/am.
Gaza City (ANTARA) - Kepala biro politik Hamas Ismail Haniyeh mengatakan bahwa pasukan perlawanan di Jalur Gaza siap menghadapi perang berkepanjangan dengan tentara Israel.
Dalam rekaman pidatonya, Kamis (16/11), Haniyeh memuji ketahanan rakyat Palestina dan koordinasi faksi-faksi perlawanan untuk membubarkan kemampuan tentara Israel dan melemahkannya di berbagai bidang.
“Jika musuh menginginkan pertempuran yang panjang, kapasitas kami lebih panjang dari musuh kami. Perlawanan kami akan menjadi kata penentu yang menunjukkan bahwa pasukan perlawanan terus memerangi musuh Zionis dan akan muncul sebagai pemenang," kata dia.
Dia kemudian menyoroti kemenangan yang dicapai oleh anggota perlawanan Hamas di Jalur Gaza.
"Para pahlawan perlawanan sedang menulis halaman kejayaan di Gaza, sebanding dengan lawan-lawan mereka dalam hal kepahlawanan dan keberanian, dengan memberikan pukulan yang menyakitkan kepada tentara musuh dan kendaraan militernya," ujar Haniyeh.
Dia mengatakan bahwa dunia akan menyaksikan sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, dan faksi-faksi perlawanan mengalahkan pendudukan Israel di Gaza, seperti yang mereka lakukan 18 tahun lalu ketika Israel diusir keluar dari Gaza pada 2005.
“Mereka (Israel) tidak akan menuai apa pun kecuali lebih banyak kegagalan, kekecewaan, dan kekalahan," kata Haniyeh.
Haniyeh menganggap penduduk Gaza dan kelompok perlawanan telah menggagalkan tujuan dan rencana musuh untuk mengungsi atau mengambil kembali sandera secara paksa.
Sementara itu, ia menyerukan implementasi resolusi-resolusi yang dihasilkan dalam KTT Organisasi Kerja Sama Islam serta KTT Liga Arab pekan lalu, terutama untuk segera menghentikan agresi, mencabut blokade Gaza, melindungi tempat-tempat suci, serta mewujudkan aspirasi rakyat Palestina untuk kebebasan dan kemerdekaan.
Haniyeh juga menekankan pentingnya segera membentuk sebuah komite yang terdiri dari beberapa negara, yang bertugas memantau pelaksanaan keputusan yang dikeluarkan oleh KTT tersebut.
Sebelumnya pada Kamis (16/11), PBB menyatakan penyesalan atas pernyataan Israel mengenai resolusinya yang menyerukan jeda kemanusiaan yang mendesak di Jalur Gaza.
"Kami menyesali pernyataan yang kami lihat dari Pemerintah Israel mengenai resolusi," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers hariannya.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi tersebut dengan 12 suara mendukung, tidak ada yang menentang, dan tiga abstain (AS, Inggris, dan Rusia) yang menyerukan jeda kemanusiaan yang mendesak dan diperpanjang di Jalur Gaza.
Dari sisi Israel menolak resolusi tersebut, mengklaim bahwa resolusi tersebut "tidak sesuai dengan kenyataan."
"Maksud saya, menurut saya, seperti yang kita semua tahu, cukup sulit bagi Dewan untuk bisa mengeluarkan resolusi," tambah Dujarric.
Saat ditanya oleh Anadolu apakah Sekjen PBB Antonio Guterres menganggap resolusi tersebut cukup, dia berkata: "Saya pikir adalah sesuatu yang baik bahwa Dewan Keamanan menemukan cara untuk bergerak bersama menuju penghentian kekerasan dalam konflik ini,"
"Perjuangan masih berlanjut. Tentu saja, masih banyak yang harus dilakukan."
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hamas siap hadapi perang jangka panjang dengan Israel
Dalam rekaman pidatonya, Kamis (16/11), Haniyeh memuji ketahanan rakyat Palestina dan koordinasi faksi-faksi perlawanan untuk membubarkan kemampuan tentara Israel dan melemahkannya di berbagai bidang.
“Jika musuh menginginkan pertempuran yang panjang, kapasitas kami lebih panjang dari musuh kami. Perlawanan kami akan menjadi kata penentu yang menunjukkan bahwa pasukan perlawanan terus memerangi musuh Zionis dan akan muncul sebagai pemenang," kata dia.
Dia kemudian menyoroti kemenangan yang dicapai oleh anggota perlawanan Hamas di Jalur Gaza.
"Para pahlawan perlawanan sedang menulis halaman kejayaan di Gaza, sebanding dengan lawan-lawan mereka dalam hal kepahlawanan dan keberanian, dengan memberikan pukulan yang menyakitkan kepada tentara musuh dan kendaraan militernya," ujar Haniyeh.
Dia mengatakan bahwa dunia akan menyaksikan sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, dan faksi-faksi perlawanan mengalahkan pendudukan Israel di Gaza, seperti yang mereka lakukan 18 tahun lalu ketika Israel diusir keluar dari Gaza pada 2005.
“Mereka (Israel) tidak akan menuai apa pun kecuali lebih banyak kegagalan, kekecewaan, dan kekalahan," kata Haniyeh.
Haniyeh menganggap penduduk Gaza dan kelompok perlawanan telah menggagalkan tujuan dan rencana musuh untuk mengungsi atau mengambil kembali sandera secara paksa.
Sementara itu, ia menyerukan implementasi resolusi-resolusi yang dihasilkan dalam KTT Organisasi Kerja Sama Islam serta KTT Liga Arab pekan lalu, terutama untuk segera menghentikan agresi, mencabut blokade Gaza, melindungi tempat-tempat suci, serta mewujudkan aspirasi rakyat Palestina untuk kebebasan dan kemerdekaan.
Haniyeh juga menekankan pentingnya segera membentuk sebuah komite yang terdiri dari beberapa negara, yang bertugas memantau pelaksanaan keputusan yang dikeluarkan oleh KTT tersebut.
Sebelumnya pada Kamis (16/11), PBB menyatakan penyesalan atas pernyataan Israel mengenai resolusinya yang menyerukan jeda kemanusiaan yang mendesak di Jalur Gaza.
"Kami menyesali pernyataan yang kami lihat dari Pemerintah Israel mengenai resolusi," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers hariannya.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi tersebut dengan 12 suara mendukung, tidak ada yang menentang, dan tiga abstain (AS, Inggris, dan Rusia) yang menyerukan jeda kemanusiaan yang mendesak dan diperpanjang di Jalur Gaza.
Dari sisi Israel menolak resolusi tersebut, mengklaim bahwa resolusi tersebut "tidak sesuai dengan kenyataan."
"Maksud saya, menurut saya, seperti yang kita semua tahu, cukup sulit bagi Dewan untuk bisa mengeluarkan resolusi," tambah Dujarric.
Saat ditanya oleh Anadolu apakah Sekjen PBB Antonio Guterres menganggap resolusi tersebut cukup, dia berkata: "Saya pikir adalah sesuatu yang baik bahwa Dewan Keamanan menemukan cara untuk bergerak bersama menuju penghentian kekerasan dalam konflik ini,"
"Perjuangan masih berlanjut. Tentu saja, masih banyak yang harus dilakukan."
Sumber: Anadolu
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Hamas siap hadapi perang jangka panjang dengan Israel
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor : Angiela Chantiequ
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Trump 'murka' ancam tarif 200 persen jika Marcon tak jadi Dewan Perdamaian Gaza
20 January 2026 14:30 WIB
Kamboja tuduh pasukan militer Thailand lakukan serangan di tengah perundingan
26 December 2025 14:53 WIB
Thailand luncurkan operasi militer "Trat Prap Poropak" di perbatasan Kamboja
10 December 2025 15:35 WIB
Terpopuler - Jagat
Lihat Juga
Tren "mudik terbalik" saat Imlek kian populer di kalangan anak muda di China
12 February 2026 12:12 WIB
Komisi Eropa ajukan keberatan ke Meta terkait pembatasan akses AI di WhatsApp
10 February 2026 13:54 WIB
Perdana Menteri Inggris minta maaf atas penunjukan dubes terkait kasus Epstein
06 February 2026 15:53 WIB
Gencatan senjata tahap kedua, 54 jenazah warga Palestina telah tiba di Gaza
05 February 2026 11:16 WIB
Kapolri usulkan Bintang Bhayangkara untuk Meri Hoegeng bentuk penghormatan
04 February 2026 14:22 WIB