Batam (ANTARA News) - Sub Divisi Regional Perum Bulog Batam menjamin persediaan beras untuk rakyat miskin Kota Batam dan Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau hingga empat sampai lima bulan ke depan, aman.
       
Kepala Sub Divisi Regional Perum Bulog Batam yang membawahi Kota Batam dan Kabupaten Karimun Marjoni Busral mengatakan, saat ini jumlah beras yang tersimpan di Gudang milik Bulog Batu Ampar Batam masih sekitar 3.200 ton.
       
"Persediaan aman, sampai empat-lima bulan kedepan. Kebutuhan untuk dua wilayah tersebut hanya sekitar 718 ton per bulan," kata dia di Batam, Selasa.
       
Walaupun saat stok beras di Pasar Induk Cipinang menipis, kata dia, tidak mempengaruhi distribusi beras di Batam dan Karimun.
       
"Beras yang ada di gudang adalah beras impor asal Thailand dan Vietnam," kata Marjoni.
       
Marjoni mengatakan, khusus untuk memenuhi kebutuhan Kota Batam dan Kabupaten Karimun, pemerintah pusat memberi kebijakan impor beras dari kedua negara tersebut.
       
"Yang ada saat ini adalah beras diimpor awal tahun lalu. Saat ini juga sedang dilakukan pembahasan untuk impor periode kedua," tambah dia.
       
Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam, Ahmad Hijazi mengatakan, seharusnya untuk Batam memang diberikan keistimewaan untuk melakukan impor beras karena Batam bukan daerah penghasil.
       
"Batam 'zero' produksi beras jadi harus ada impor. Karena beras impor lebih murah daripada beras yang didatangkan dari daerah lain di Indonesia," kata Hijazi.
       
Hijazi juga mengatakan, impor diperlukan saat petani dalam negeri tidak sedang masa panen. Sebab, kalau dilakukan saat panen raya akan merugikan para petani.
       
"Kami juga harus memperhatikan para petani, jangan sampai saat panen harganya turun tajam sehingga merugikan petani kita," kata dia.
       
Hijazi juga mengatakan, harga kebutuhan selain beras di Batam terus meningkat sejak sebulan terakhir. Selain beras, Pemerintah Kota Batam juga berharap pemerintah memberikan izin impor telur dan daging dari negara tetangga untuk memenuhi kebutuhan Ramadan.
       
"Impor bahan kebutuhan pokok tersebut untuk mengantisipasi harga yang terus melonjak," kata Hijazi. (ANT-L/F002/Btm2)