Warga Tionghoa Yakini Lampion Wahana Penyampai Doa
Senin, 6 Februari 2012 12:56 WIB
Karimun (ANTARA Kepri) - Warga masyarakat Tionghoa di Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, meyakini pelepasan lampion pada perayaan menyambut hari ke-15 Imlek 2563 atau Cap Go Meh sebagai wahana penyampai doa.
"Lampion yang dilepas pada malam Cap Go Meh merupakan wahana penyampai doa atau biasanya kami menyebutnya membuang niat dengan harapan niat itu jadi kenyataan," kata pengurus Klenteng Toa Pek Kong, Kamkung, Meral, Acuan, Senin.
Acuan mengatakan, bagi warga yang mempunyai permintaan khusus dan keinginan yang belum terkabulkan, maka pelepasan lampion merupakan saat yang tepat untuk menyampaikannya agar dikabulkan oleh Tuhan.
"Kalau ada pemuda yang mau cari jodoh, maka panjatkanlah doa minta dicarikan jodoh saat lampion akan dilepas. Begitu juga bagi yang ingin hidup lebih baik, ingin punya anak atau punya keinginan lain," katanya.
Pada Senin dinihari, sejak pukul 23.30 WIB, puluhan anak-anak, dewasa, pria maupun wanita melepas ratusan lampion di halaman klenteng Toa Pek Kong yang berlokasi di pinggir pantai perairan Meral.
Lampion yang dilepas terbuat dari plastik berwarna merah dan jingga, pada bagian bawahnya berlubang dan memiliki sumbu yang kemudian diberi nyala api sehingga memantulkan cahaya kemerahan.
Suasana sekitar klenteng yang diterangi lampion menggunakan lampu listrik makin semarak ketika ratusan lampion silih berganti beterbangan di udara, bahkan bertebaran hingga ke tengah laut.
Pada saat bersamaan, bunyi petasan yang dinyalakan di depan klenteng bersahut-sahutan dengan letusan kembang api yang menimbulkan cahaya berwarna-warni di langit Meral.
Joni, warga mengaku telah menyiapkan lima lampion untuk dinyalakan dan kemudian dilepas ke udara. Dia mengaku punya maksud tertentu untuk melepas lampion bertepatan dengan datangnya hari ke-15 Imlek 2563.
"Saya punya niat yang belum kesampaian, mudah-mudahan dengan melepas lampion, niat saya itu dikabulkan oleh Tuhan," katanya.
Friendly yang juga pengurus klenteng Toa Pek Kong mengatakan, pelepasan lampion merupakan tradisi tahunan setiap perayaan Cap Go Meh dan merupakan salah satu ritual di klenteng yang sudah berusia sekitar 80 tahun tersebut.
"Pada hakikatnya, setiap kegiatan ritual punya makna doa agar hidup lebih baik, rezeki yang melimpah dan hidup penuh kedamaian, salah satunya dengan menyalakan lampion dan melepasnya ke udara," katanya.
Selain pelepasan lampion, penyampaian doa juga dilakukan dengan membakar ratusan dupa yang berjejer di halaman klenteng.
"Sebelum doa dan sembahyang, kami terlebih dahulu menghibur warga dengan menampilkan artis dan grup band dari Malaysia yang diundang khusus untuk memeriahkan Imlek di klenteng ini," Friendly menambahkan. (KR-RDT/M019)
"Lampion yang dilepas pada malam Cap Go Meh merupakan wahana penyampai doa atau biasanya kami menyebutnya membuang niat dengan harapan niat itu jadi kenyataan," kata pengurus Klenteng Toa Pek Kong, Kamkung, Meral, Acuan, Senin.
Acuan mengatakan, bagi warga yang mempunyai permintaan khusus dan keinginan yang belum terkabulkan, maka pelepasan lampion merupakan saat yang tepat untuk menyampaikannya agar dikabulkan oleh Tuhan.
"Kalau ada pemuda yang mau cari jodoh, maka panjatkanlah doa minta dicarikan jodoh saat lampion akan dilepas. Begitu juga bagi yang ingin hidup lebih baik, ingin punya anak atau punya keinginan lain," katanya.
Pada Senin dinihari, sejak pukul 23.30 WIB, puluhan anak-anak, dewasa, pria maupun wanita melepas ratusan lampion di halaman klenteng Toa Pek Kong yang berlokasi di pinggir pantai perairan Meral.
Lampion yang dilepas terbuat dari plastik berwarna merah dan jingga, pada bagian bawahnya berlubang dan memiliki sumbu yang kemudian diberi nyala api sehingga memantulkan cahaya kemerahan.
Suasana sekitar klenteng yang diterangi lampion menggunakan lampu listrik makin semarak ketika ratusan lampion silih berganti beterbangan di udara, bahkan bertebaran hingga ke tengah laut.
Pada saat bersamaan, bunyi petasan yang dinyalakan di depan klenteng bersahut-sahutan dengan letusan kembang api yang menimbulkan cahaya berwarna-warni di langit Meral.
Joni, warga mengaku telah menyiapkan lima lampion untuk dinyalakan dan kemudian dilepas ke udara. Dia mengaku punya maksud tertentu untuk melepas lampion bertepatan dengan datangnya hari ke-15 Imlek 2563.
"Saya punya niat yang belum kesampaian, mudah-mudahan dengan melepas lampion, niat saya itu dikabulkan oleh Tuhan," katanya.
Friendly yang juga pengurus klenteng Toa Pek Kong mengatakan, pelepasan lampion merupakan tradisi tahunan setiap perayaan Cap Go Meh dan merupakan salah satu ritual di klenteng yang sudah berusia sekitar 80 tahun tersebut.
"Pada hakikatnya, setiap kegiatan ritual punya makna doa agar hidup lebih baik, rezeki yang melimpah dan hidup penuh kedamaian, salah satunya dengan menyalakan lampion dan melepasnya ke udara," katanya.
Selain pelepasan lampion, penyampaian doa juga dilakukan dengan membakar ratusan dupa yang berjejer di halaman klenteng.
"Sebelum doa dan sembahyang, kami terlebih dahulu menghibur warga dengan menampilkan artis dan grup band dari Malaysia yang diundang khusus untuk memeriahkan Imlek di klenteng ini," Friendly menambahkan. (KR-RDT/M019)
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga binaan Tionghoa ikut rayakan Imlek di Lapas Narkotika Tanjungpinang
30 January 2025 7:29 WIB, 2025
Vihara Maitreya Batam siapkan 10 menu makanan vegetarian pada Imlek 2025
29 January 2025 15:16 WIB, 2025
Ribuan warga Tionghoa padati Vihara Maitreya Batam di momen Imlek 2025
29 January 2025 13:24 WIB, 2025
Projamin minta Polda Metro Jaya mengusut dugaan penistaan agama Pendeta Gilbert
20 June 2024 19:18 WIB, 2024
Gubernur Kepri sebut bazar Imlek Kota Tua jadi destinasi wisata kuliner
22 January 2024 14:47 WIB, 2024
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Pemkab Natuna gelar pasar murah stabilkan harga sembako menjelang hari keagamaan
14 February 2026 14:11 WIB