Batam (ANTARA) - Science Centre Singapore menggelar pameran petualangan sejarah hewan purba yang dibuka sejak Oktober 2025 hingga Maret 2026. Agenda tahunan ini memberikan edukasi dengan cara yang seru.

Senior Director Corporate Resources & Operation Science Centre Singapore Daniel Lim mengatakan, pada periode ini pihaknya memilih tema pameran hewan purba sebagai upaya memberikan tempat liburan yang menarik dan mengedukasi.

Pameran tersebut menyuguhkan visualisasi kepunahan dan keberlanjutan hewan purba, sekaligus menjelaskan dampak yang ditimbulkan manusia terhadap keanekaragaman hayati.

"Pesan yang kita kumpulkan yaitu tentang kepunahan dan keberlanjutan, jadi ceritanya adalah tentang kisah kepunahan yang ingin kami soroti, dan dampak yang ditimbulkan manusia terhadap keanekaragaman hayati kita," kata Daniel di Singapura, Selasa (18/11).


Daniel menjelaskan, pameran megah seluas 3.000 meter persegi itu menghadirkan dua ekshibisi kelas dunia, yaitu Dinosaurs of Patagonia dari Museo Paleontológico Egidio Feruglio dan Six Extinctions dari Gondwana Studios. Dalam pameran tersebut pihaknya memiliki sorotan utama berupa replika berskala penuh dari Patagotitan Mayorum, yaitu salah satu dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan.

"Replika Patagotitan Mayorum itu memiliki bobot sekitar 57 ton dengan panjang mencapai 40 meter, dan menjadi salah satu temuan paleontologi paling penting dalam beberapa dekade terakhir." jelasnya.

Replika berskala penuh dari Patagotitan Mayorum yang merupakan salah satu dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan, Selasa (18/11). (ANTARA/Angiela Chantiequ)


Selain itu dalam pihaknya juga menyuguhkan replika berskala penuh lain berupa predator legendaris, yaitu spesimen Tyrannosaurus Rex atau biasa disebut dengan T.rex yang panjangnya mencapai 13 meter. 

Dikurasi oleh Lee Kong Chian Natural History Museum, pameran ini membawa isu kepunahan ke ranah yang lebih dekat dengan menyoroti tantangan keanekaragaman hayati di Singapura. 

Pada bagian tersebut, ia menjelaskan, pihaknya menampilkan spesies asli yang sudah punah secara lokal serta upaya pelestarian yang masih berlangsung. Salah satunya adalah burung pelatuk raksasa Great Slaty Woodpecker (Mulleripicus pulverulentus), yang pernah berkembang biak di Singapura namun hilang akibat pembangunan yang menghabisi pohon-pohon tua tempatnya bersarang.

Penampakan spesies asli dari burung pelatuk raksasa Great Slaty Woodpecker (Mulleripicus pulverulentus) di Science Centre Singapore, Selasa (18/11). (ANTARA/Angiela Chantiequ)

"Dengan adanya pameran ini diharapkan dapat membawa pengunjung menikmati dan memahami momen-momen yang ada dalam sejarah kepunahan dan keberlanjutan aneka ragam hayati di dunia, dan dapat melestarikan secara berkelanjutan," katanya.


Pewarta : Angiela Chantiequ
Editor : Yuniati Jannatun Naim
Copyright © ANTARA 2026