Batam (Antara Kepri) - Industri galangan kapal di Kota Batam Kepulauan Riau tutup total pada Kamis (31/10) dan Jumat (1/11) karena sebagian besar pekerjanya mogok kerja nasional.

"Kami sudah dengar, galangan kapal mereka tutup semua untuk mengantisipasi yang tidak-tidak. Biar bebas berdemonstrasi," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Provinsi Kepulauan Riau Cahya di Batam, Rabu.

Penutupan aktivitas di galangan kapal itu untuk menghindari tindak anarkis yang mungkin akan dilakukan pekerja dalam mogok nasional dengan menutup akses masuk jalan atau menyapu pekerja yang tetap ingin melakukan pekerjaannya.

Meski begitu, kata dia, Apindo tidak menyarankan seluruh industri di Batam tutup, seperti industri manufaktur dan lainnya.

"Yang paling banyak mogok itu SPMI, banyak galangan kapal, bagi perusahaan yang tidak ada efeknya silahkan beroperasi," kata dia.

Pengusaha pada dasarnya tidak berkeberatan dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan pekerja, asalkan tidak anarkis.

"Saya ingatkan buruh, bahwa jangan sampai perjuangan mereka hanya untuk menyelamatkan segelintir orang. Perjuangannya bagus, tapi banyak mengemboskan buruh lain," kata dia.

Serikat Pekerja Metal Indonesia memastikan 25.000 orang buruh akan mengikuti mogok nasional Kamis (31/10) dan Jumat (1/11) menuntut kenaikan Upah Minimum Kota 2014 sebesar 50 persen dari tahun sebelumnya.

"Kami pastikan 25.000 buruh ikut mogok nasional, karena kami mengajak seluruh elemen buruh, tidak hanya anggota FSPMI," kata Wakil Ketua FSPMI Batam Mustofa di Batam, Rabu.

Selain 22.000 anggpta SPMI, ia mengatakan 1.500 orang anggota Serikat Pekerja Nasional dan 1.500 pekerja tanpa serikat akan ikut serta dalam mogok nasional, hingga total buruh yang mogok kerja 25.000 orang.

Para pekerja yang mogok berasal dari kawasan industri Tanjunguncang, Muka Kuning (Batamindo), Panbil, Batu Ampar dan Kabil dengan jenis industri galangan kapal dan manufaktur.

"Tapi paling banyak pekerja dari Tanjunguncang, Panbil dan Muka Kuning," kata dia.(Antara)

Editor: Dedi