Warga Sayangkan Saluran Air PNPM Karimun Terbengkalai
Kamis, 17 April 2014 10:24 WIB
Raja Zuriantiaz (antarakepri.com/Rusdianto)
Karimun (Antara Kepri) - Kalangan warga menyayangkan pembangunan drainase atau saluran air Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) di Desa Sebele, Kecamatan Belat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, terbengkalai.
"Warga Desa Sebele banyak menyampaikan keluhannya karena pengerjaan saluran air itu terbengkalai hampir satu tahun," kata tokoh masyarakat Raja Zuriantiaz di Tanjung Balai Karimun, Kamis.
Raja Zuriantiaz yang juga mantan anggota DPRD Karimun mengatakan, informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa proyek saluran air itu dibangun dengan dana PNPM untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda pemukiman dan perkebunan warga.
Saluran air itu, menurut dia, membelah lapangan sepak bola, lebar dan dalamnya sekitar 5 meter.
Warga, kata dia, secara sukarela merelakan lapangan tempat mereka berolahraga dikonversi dengan lapangan lain untuk pembangunan saluran air yang lebih bermanfaat karena berfungsi mencegah banjir.
"Kenyataannya, saluran air yang dibangun belum siap dan lapangan sebagai pengganti juga tidak bisa mereka gunakan," ucapnya.
Ia menilai pemerintah daerah tidak tanggap terkait belum tuntasnya pengerjaan saluran air tersebut meski biaya pengerjaannya menggunakan dana PNPM yang menerapkan sistem swakelola, atau dikerjakan oleh kelompok masyarakat penerima program.
"PNPM memang cukup berhasil dalam membangun infrastruktur dasar masyarakat, tapi proyek yang satu ini justru tidak selesai. Sangat disayangkan pemerintah daerah tidak tanggap sehingga tidak terbengkalai seperti itu," tuturnya.
Kondisi saluran air yang terbengkalai itu, menurut dia, tidak hanya belum memberikan manfaat dalam mencegah banjir yang melanda setiap musim hujan, tetapi juga membahayakan warga karena digali cukup dalam dan tidak disemenisasi.
"Saluran air itu dibangun di tengah pemukiman sebagai fasilitas umum yang vital bagi masyarakat. Harusnya, pembangunannya dilakukan dengan perencanaan yang matang serta melalui kajian kelayakan," katanya.
Ia mendesak pemerintah daerah meninjau saluran air tersebut dan mempertimbangkan untuk melanjutkan pembangunannya sehingga dapat berfungsi sesuai peruntukannya.
"Desa Sebele sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Belat yang merupakan kecamatan pemekaran membutuhkan saluran air yang memadai karena kerap terendam banjir saat musim hujan. Karena itu, kami minta pemerintah daerah melanjutkan pembangunan saluran air itu, apakah melalui PNPM atau program lain, terserah pemerintah," ucapnya. (Antara)
Editor: Adi Lazuardi
"Warga Desa Sebele banyak menyampaikan keluhannya karena pengerjaan saluran air itu terbengkalai hampir satu tahun," kata tokoh masyarakat Raja Zuriantiaz di Tanjung Balai Karimun, Kamis.
Raja Zuriantiaz yang juga mantan anggota DPRD Karimun mengatakan, informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa proyek saluran air itu dibangun dengan dana PNPM untuk mengantisipasi banjir yang kerap melanda pemukiman dan perkebunan warga.
Saluran air itu, menurut dia, membelah lapangan sepak bola, lebar dan dalamnya sekitar 5 meter.
Warga, kata dia, secara sukarela merelakan lapangan tempat mereka berolahraga dikonversi dengan lapangan lain untuk pembangunan saluran air yang lebih bermanfaat karena berfungsi mencegah banjir.
"Kenyataannya, saluran air yang dibangun belum siap dan lapangan sebagai pengganti juga tidak bisa mereka gunakan," ucapnya.
Ia menilai pemerintah daerah tidak tanggap terkait belum tuntasnya pengerjaan saluran air tersebut meski biaya pengerjaannya menggunakan dana PNPM yang menerapkan sistem swakelola, atau dikerjakan oleh kelompok masyarakat penerima program.
"PNPM memang cukup berhasil dalam membangun infrastruktur dasar masyarakat, tapi proyek yang satu ini justru tidak selesai. Sangat disayangkan pemerintah daerah tidak tanggap sehingga tidak terbengkalai seperti itu," tuturnya.
Kondisi saluran air yang terbengkalai itu, menurut dia, tidak hanya belum memberikan manfaat dalam mencegah banjir yang melanda setiap musim hujan, tetapi juga membahayakan warga karena digali cukup dalam dan tidak disemenisasi.
"Saluran air itu dibangun di tengah pemukiman sebagai fasilitas umum yang vital bagi masyarakat. Harusnya, pembangunannya dilakukan dengan perencanaan yang matang serta melalui kajian kelayakan," katanya.
Ia mendesak pemerintah daerah meninjau saluran air tersebut dan mempertimbangkan untuk melanjutkan pembangunannya sehingga dapat berfungsi sesuai peruntukannya.
"Desa Sebele sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Belat yang merupakan kecamatan pemekaran membutuhkan saluran air yang memadai karena kerap terendam banjir saat musim hujan. Karena itu, kami minta pemerintah daerah melanjutkan pembangunan saluran air itu, apakah melalui PNPM atau program lain, terserah pemerintah," ucapnya. (Antara)
Editor: Adi Lazuardi
Pewarta :
Editor : Jo Seng Bie
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi buru orang tua yang diduga buang bayi ke saluran irigasi di Sukabumi
03 February 2025 7:25 WIB
Pemkab Natuna Kepri saluran bantuan ke korban bencana di Pulau Tiga Barat
18 December 2024 11:33 WIB, 2024
Dewan Pers buka saluran pengaduan untuk pelaporan kasus pemerasan oknum wartawan
10 June 2024 16:29 WIB, 2024
Gubernur Ansar resmikan pengoperasian saluran kabel listrik bawah laut
24 December 2023 9:09 WIB, 2023
WhatsApp dilengkapi lebih dari 500 juta pengguna di fitur "Saluran"
17 November 2023 16:32 WIB, 2023
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Dinsos Batam intensifkan penertiban pengemis, pengamen dan penjual di jalanan
29 January 2026 12:50 WIB