Pembudidaya Rumput Laut Libur Selama Musim Utara
Kamis, 15 Januari 2015 17:48 WIB
Karimun (Antara Kepri) - Para pembudidaya rumput laut di Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau libur menyemai bibit rumput laut selama musim angin utara yang tengah berlangsung dan diperkirakan berakhir pada Februari 2015.
"Dalam setahun, aktivitas menyemai hingga memanen rumput laut hanya delapan bulan. Sisanya selama empat bulan kami libur karena saat itu sedang musim angin utara," kata Ahmad, seorang pembudidaya rumput laut di Pulau Jaga, Kecamatan Moro, Kamis.
Ahmad menjelaskan, empat bulan libur mengembangkan rumput laut tersebut biasanya dimulai pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, yaitu pada November hingga Februari.
Musim angin utara merupakan musim angin kencang dan tidak cocok untuk menyemai rumput laut karena budi daya komoditas tersebut hanya bisa dilakukan saat kondisi air laut sedang tenang tanpa riak gelombang.
"Rumput laut yang disemai tidak bisa tumbuh ketika air laut bergelombang akibat angin. Selain itu, kondisi air juga tidak sejuk selama musim angin utara yang berpengaruh pada kualitas rumput laut," katanya.
Kondisi laut yang bergelombang juga bisa mengakibatkan tiang pancang dan tali pengikat rumput laut yang ditebar di laut hanyut atau hilang akibat hempasan gelombang.
Ahmad mengaku kembali menjadi nelayan selama libur membudidayakan rumput laut, sambil menunggu musim angin utara berakhir.
"Musim angin dan cuaca sudah siklus alam yang rutin setiap tahun. Kami sudah terbiasa menghadapinya. Sebagai alternatif, kami kembali menangkap ikan ketika libur menanam rumput laut," tutur pria yang sudah belasan tahun menekuni budidaya rumput laut.
Hal yang sama juga diungkapkan pembudidaya rumput laut lainnya, Bujang yang mengatakan memilih kembali menjadi nelayan kurau karena tidak bisa menyemai rumput laut selama musim angin utara.
"Sejak November kemarin tidak ada panen rumput laut, karena kami memang tidak turun menyemai bibit," kata dia.
Bujang memperkirakan aktivitas menyemai rumput laut dapat kembali dimulai pada awal Maret mendatang dengan adanya pergantian musim tiupan angin.
"Jadi, kami hanya panen delapan kali dalam satu tahun, dengan catatan bibit yang disemai tumbuh dengan baik dengan rentang waktu 30 hingga 45 hari untuk satu kali panen," ucapnya.
Kecamatan Moro sebagai kecamatan kepulauan merupakan perairan yang menjadi pusat budi daya rumput laut di Kabupaten Karimun. Kecamatan ini memiliki air yang jernih, cocok untuk pengembangan komoditas tersebut. (Antara)
Editor: Arie Novarina
"Dalam setahun, aktivitas menyemai hingga memanen rumput laut hanya delapan bulan. Sisanya selama empat bulan kami libur karena saat itu sedang musim angin utara," kata Ahmad, seorang pembudidaya rumput laut di Pulau Jaga, Kecamatan Moro, Kamis.
Ahmad menjelaskan, empat bulan libur mengembangkan rumput laut tersebut biasanya dimulai pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, yaitu pada November hingga Februari.
Musim angin utara merupakan musim angin kencang dan tidak cocok untuk menyemai rumput laut karena budi daya komoditas tersebut hanya bisa dilakukan saat kondisi air laut sedang tenang tanpa riak gelombang.
"Rumput laut yang disemai tidak bisa tumbuh ketika air laut bergelombang akibat angin. Selain itu, kondisi air juga tidak sejuk selama musim angin utara yang berpengaruh pada kualitas rumput laut," katanya.
Kondisi laut yang bergelombang juga bisa mengakibatkan tiang pancang dan tali pengikat rumput laut yang ditebar di laut hanyut atau hilang akibat hempasan gelombang.
Ahmad mengaku kembali menjadi nelayan selama libur membudidayakan rumput laut, sambil menunggu musim angin utara berakhir.
"Musim angin dan cuaca sudah siklus alam yang rutin setiap tahun. Kami sudah terbiasa menghadapinya. Sebagai alternatif, kami kembali menangkap ikan ketika libur menanam rumput laut," tutur pria yang sudah belasan tahun menekuni budidaya rumput laut.
Hal yang sama juga diungkapkan pembudidaya rumput laut lainnya, Bujang yang mengatakan memilih kembali menjadi nelayan kurau karena tidak bisa menyemai rumput laut selama musim angin utara.
"Sejak November kemarin tidak ada panen rumput laut, karena kami memang tidak turun menyemai bibit," kata dia.
Bujang memperkirakan aktivitas menyemai rumput laut dapat kembali dimulai pada awal Maret mendatang dengan adanya pergantian musim tiupan angin.
"Jadi, kami hanya panen delapan kali dalam satu tahun, dengan catatan bibit yang disemai tumbuh dengan baik dengan rentang waktu 30 hingga 45 hari untuk satu kali panen," ucapnya.
Kecamatan Moro sebagai kecamatan kepulauan merupakan perairan yang menjadi pusat budi daya rumput laut di Kabupaten Karimun. Kecamatan ini memiliki air yang jernih, cocok untuk pengembangan komoditas tersebut. (Antara)
Editor: Arie Novarina
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Kepri serahkan 11,5 ton bibit rumput laut ke warga pesisir di Batam dan Karimun
24 October 2023 16:58 WIB, 2023
Pelajar Bengkulu raih medali emas berkat ciptakan permen antikanker dari rumput liar
21 February 2023 15:14 WIB, 2023
Gubernur Ansar: Lingga dan Karimun potensial produksi 32.000 ton rumput laut
01 November 2022 13:44 WIB, 2022
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Disdik Kepri anjurkan satuan pendidikan perbanyak tadarus selama bulan Ramadhan
14 February 2026 18:16 WIB
Pemkab Natuna gelar pasar murah stabilkan harga sembako menjelang hari keagamaan
14 February 2026 14:11 WIB