Logo Header Antaranews Kepri

Budidaya rumput laut bisa jadi peluang sejahterakan warga pesisir di Kepri

Selasa, 22 Juli 2025 16:46 WIB
Image Print
Komoditas rumput laut kering di Kepri berpotensi tingkatkan kesejahteraan warga pesisir. ANTARA/HO-DKP Kepri

Tanjungpinang (ANTARA) - Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Wagub Kepri) Nyanyang Haris Pratamura menyampaikan potensi budidaya rumput laut di daerah itu berpeluang besar mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis maritim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Potensi kelautan dan perikanan kita luar biasa. Selain potensi budidaya ikan yang mencapai lebih dari 27 ribu ton per tahun, budi daya rumput laut juga sangat menjanjikan,” kata Wagub Nyanyang usai panen raya 100 ton rumput laut di Desa Sugie, Kecamatan Sugie Besar, Kabupaten Karimun, Selasa.

Wagub menyampaikan berdasarkan data tahun 2024, produksi rumput laut Kepri telah mencapai 15.861 ton. Angka tersebut ditaksir masih sangat mungkin untuk terus ditingkatkan.

Menurut dia rumput laut adalah komoditas unggulan yang potensinya masih sangat terbuka luas untuk dikembangkan. Ini bisa menjadi sumber penghasilan baru yang bernilai tinggi bagi masyarakat pesisir. Harga rumput laut kering berkisar Rp25 ribu per kilogram.

Wagub juga menyoroti peluang pasar ekspor sebagai aspek penting dari pengembangan rumput laut. Bahkan, sebagian besar hasil rumput laut dari Kepri saat ini telah diekspor ke berbagai negara, seperti Singapura dan China.

Baca juga: Angka konsumsi ikan di Kepri terus meningkat sejak 2021 hingga 2024

“Kalau sebagian besar hasil panen rumput laut kita bisa diekspor, tentu ini peluang besar yang tidak boleh kita sia-siakan. Kepri punya potensi, tinggal bagaimana dikelola secara maksimal,” jelasnya.

Saat ini, lanjut Wagub, lokasi budi daya rumput laut di Kepri masih terkonsentrasi di beberapa wilayah, seperti Sugie Besar (Karimun), Belakang Padang (Batam), dan Singkep Pesisir (Lingga).

Wagub Nyanyang berharap ke depan potensi tersebut bisa diperluas ke wilayah lainnya di Kepri, termasuk Bintan, Tanjungpinang, Natuna, dan Anambas.

Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi tepat guna dalam pengelolaan budidaya agar produksi yang dihasilkan memenuhi standar mutu ekspor internasional.

“Kita harus masuk ke fase berikutnya, yaitu pemanfaatan teknologi dalam proses budidaya, sehingga produk yang kita hasilkan benar-benar berkualitas dan berdaya saing tinggi di pasar luar negeri,” demikian Nyanyang.

Baca juga: BKKBN: Data 238.608 keluarga di Kepri diperbarui melalui program PK-25

Baca juga: Polda Kepri optimalkan peran Binmas dalam cegah PMI non-prosedural



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026