Pelemahan Rupiah Berdampak pada Usaha Tahu Batam
Kamis, 12 Maret 2015 10:38 WIB
Batam (Antara Kepri) - Penurunan nilai tukar rupiah yang berdampak pada meningkatnya harga kedelai berdampak pada pengusaha tahu dan tempe di Kota Batam, Kepulauan Riau.
"Kondisi ini diperparah dengan pasokan kedelai pasca-Imlek yang jelek," kata Ketua Umum Koperasi Produsen Makanan Minuman Tahu Tempe Kota Batam Obos Bastaman di Batam, Kamis.
Ia mengatakan, saat libur Imlek eksportir kedelai berhenti memasok kebutuhan untuk Batam dan menimbun produknya di Malaysia.
"Karena terlalu lama ditimbun, saat dikirim dari Malaysia ke Batam kualitasnya sudah tidak bagus lagi," kata dia.
Untuk mempertahankan kualitas produk, kata dia, para pengrajin terpaksa juga mengambil kedelai dari Pekanbaru yang diimpor dari Amerika Serikat meski harganya jauh lebih tinggi dibanding yang didatangkan melalui Malaysia.
Menurut distributor, kata dia, harga yang diambil dari Pekanbaru untuk ukuran 50 kilogram mencapai Rp385 ribu dengan minimal pembelian 5 ton. Sampai ke tangan pengrajin harganya menjadi Rp400 ribu hingga Rp450 ribu per 50 kilogram.
Menurut pengrajin, harga tersebut jauh di atas standar yang seharusnya berlaku yaitu Rp285 ribu hingga Rp300 ribu per 50 kilogram agar pembuat produk kedelai bisa menjual dengan harga kompetitif.
"Jika harganya mencapai Rp400 ribu ke atas, tentu akan membuat kami kesulitan untuk mengembangkan dan menjual produk dengan harga kompetitif," kata Obos.
Menurut Obos, gejolak harga kedelai selama ini terus menekan industri kecil menengah (IKM) yang berkapasitas kecil lantaran harga kedelai dipatok lebih murah untuk pembelian 5 ton sampai 10 ton dibanding pembelian dengan jumlah lebih sedikit.
"Fluktuasi harga kedelai akibat kenaikan dolar merupakan masalah klasik yang belum diselesaikan. Gonjang ganjing harga kedelai membuat kami khawatir meski ini penyakit lama," kata Obos.
Ia berharap ada standar harga kedelai sehingga tidak naik turun karena tidak ada kontrol dari pemerintah.
"Berbagai upaya untuk menekan fluktuasi harga ini juga sudah dirancang oleh koperasi yakni pasokan langsung dari Amerika Serikat. Namun belum juga direspons pusat," kata dia.
Ia mengatakan jumlah IKM di Batam dari tahun ke tahun berkurang dari sekitar 120 industri menjadi hanya sekitar 90 industri. Sementara kebutuhan pasokan kedelai diperkirakan juga menurun dari sekitar 32 ton per hari. (Antara)
Editor: Rusdianto
"Kondisi ini diperparah dengan pasokan kedelai pasca-Imlek yang jelek," kata Ketua Umum Koperasi Produsen Makanan Minuman Tahu Tempe Kota Batam Obos Bastaman di Batam, Kamis.
Ia mengatakan, saat libur Imlek eksportir kedelai berhenti memasok kebutuhan untuk Batam dan menimbun produknya di Malaysia.
"Karena terlalu lama ditimbun, saat dikirim dari Malaysia ke Batam kualitasnya sudah tidak bagus lagi," kata dia.
Untuk mempertahankan kualitas produk, kata dia, para pengrajin terpaksa juga mengambil kedelai dari Pekanbaru yang diimpor dari Amerika Serikat meski harganya jauh lebih tinggi dibanding yang didatangkan melalui Malaysia.
Menurut distributor, kata dia, harga yang diambil dari Pekanbaru untuk ukuran 50 kilogram mencapai Rp385 ribu dengan minimal pembelian 5 ton. Sampai ke tangan pengrajin harganya menjadi Rp400 ribu hingga Rp450 ribu per 50 kilogram.
Menurut pengrajin, harga tersebut jauh di atas standar yang seharusnya berlaku yaitu Rp285 ribu hingga Rp300 ribu per 50 kilogram agar pembuat produk kedelai bisa menjual dengan harga kompetitif.
"Jika harganya mencapai Rp400 ribu ke atas, tentu akan membuat kami kesulitan untuk mengembangkan dan menjual produk dengan harga kompetitif," kata Obos.
Menurut Obos, gejolak harga kedelai selama ini terus menekan industri kecil menengah (IKM) yang berkapasitas kecil lantaran harga kedelai dipatok lebih murah untuk pembelian 5 ton sampai 10 ton dibanding pembelian dengan jumlah lebih sedikit.
"Fluktuasi harga kedelai akibat kenaikan dolar merupakan masalah klasik yang belum diselesaikan. Gonjang ganjing harga kedelai membuat kami khawatir meski ini penyakit lama," kata Obos.
Ia berharap ada standar harga kedelai sehingga tidak naik turun karena tidak ada kontrol dari pemerintah.
"Berbagai upaya untuk menekan fluktuasi harga ini juga sudah dirancang oleh koperasi yakni pasokan langsung dari Amerika Serikat. Namun belum juga direspons pusat," kata dia.
Ia mengatakan jumlah IKM di Batam dari tahun ke tahun berkurang dari sekitar 120 industri menjadi hanya sekitar 90 industri. Sementara kebutuhan pasokan kedelai diperkirakan juga menurun dari sekitar 32 ton per hari. (Antara)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Emas terangkat 8,80 dolar, bertahan di harga tertinggi dalam seminggu
03 February 2022 5:53 WIB, 2022
Emas menguat didorong pelemahan dolar dan kekhawatiran varian Omicron
23 December 2021 5:42 WIB, 2021
Terpopuler - Ekonomi & FTZ
Lihat Juga
Pelni Tanjungpinang ajak warga manfaatkan diskon tiket kapal periode libur sekolah
06 June 2026 15:57 WIB
Harga minyak mentah Indonesia pada Mei 2026 turun ke 106,56 dolar AS per barel
06 June 2026 14:04 WIB