Karimun (Antara Kepri)  - Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, menempati peringkat tiga persentase kelulusan Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat, kata Kepala Dinas Pendidikan Karimun Bakri Hasyim.

"Informasi yang saya terima, kita berada di posisi ketiga dari tujuh kabupaten/kota se-Kepri," kata dia di Tanjung Balai Karimun, Rabu.

Bakri Hasyim menjelaskan, siswa yang mengikuti UN 2017 yang digelar pada April lalu lulus 100 persen dengan jumlah siswa sebanyak 373 orang. Namun berdasarkan peringkat penilaian atau "rangking", Karimun berada pada peringkat tiga se-Provinsi Kepri.

"Hanya saja berapa besar nilainya belum kita terima, karena 'kan SMA wewenang provinsi," katanya.

Dia juga mengaku belum menerima laporan resmi dari masing-masing sekolah yang resmi mengumumkan kelulusan peserta UN pada Selasa (2/5).

Menurut dia, kelulusan siswa ditentukan berdasarkan rapat dewan guru di masing-masing sekolah.

"Kalau tidak salah, kelulusan peserta UN SMA sederajat juga 100 persen. Kami gembira dengan tingginya persentase kelulusan tahun ini," ujarnya.

Pada kesempatan itu, dia juga mengingatkan dan mengimbau para siswa agar merayakan kelulusan dengan penuh syukur kepada Tuhan, dan bersiap-siap untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

"Masa depan anak-anak masih panjang, jangan larut dengan perbuatan yang tidak bermanfaat dan merugikan," katanya.

Pengumuman kelulusan UNBK tingkat SMA masih diwarnai dengan aksi coret seragam dan konvoi keliling kota dengan menggunakan kendaraan bermoto pada Selasa (2/5) sore.

Menurut Alamsyah salah seorang warga Sungai Lakam Kecamatan Karimun, menyayangkan kelulusan para siswa-siswi yang diwarnai dengan hal-hal negatif.

Seperti mencoret-coret baju seragam sekolah, konvoi di sepanjang jalan hingga malam hari.

"Daripada dicoret-coret mending diberikan kepada adiknya atau anak yatim atau orang yang lebih membutuhkan," kata dia.

Aksi para siswa ini pun tidak mencerminkan siswa yang terdidik. Apalagi dalam merayakan kelulusan tersebut, selain mencoret-coret seragamnya, siswa-siswi berkonvoi dengan mengendarai motor yang memiliki knalpot bersuara keras.

"Semua dibikin resah, bukan hanya pengendara lainnya, masyarakat lainnya juga resah," katanya. (Antara)

Editor: Rusdianto