Karyawan dapat efektif kelola stres-depresi saat bekerja
Rabu, 11 Maret 2020 14:34 WIB
SubBagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar, Psikolog Lyly Puspa Palupi S., di Denpasar. (Foto : Antara/Ayu Khania Pranisitha).
Denpasar (ANTARA) - Sub Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar , Psikolog Lyly Puspa Palupi S mengajak para karyawan baik laki-laki maupun perempuan untuk dapat mengelola stres dan depresi secara efektif saat bekerja.
"Perlu dipahami kalau pengertian stres dan depresi itu berbeda. Indikasi stres dimana karyawan sedang dihadapkan pada tugas dengan tenggang waktu yang sempit dan dianggap akan sulit menyelesaikannya. Kondisi ini menyebabkan dia menjadi cemas, tegang, sulit berpikir. Sedangkan depresi yang didominasi perasaan sedih, dan ada pikiran-pikiran negatif dan tak jarang disertai keinginan untuk bunuh diri," jelas Lyly Puspa Palupi S dikonfirmasi di Denpasar, Rabu.
Ia menerangkan secara merinci bahwa pengertian stres dan depresi itu berbeda. Stres adalah kondisi seseorang yang tergugah secara fisik, emosi dan perilaku ketika menghadapi situasi yg dipersepsikan oleh dirinya sebagai suatu tantangan atau melebihi kapasitas dirinya. Sedangkan Depresi adalah kondisi suasana hati yang didominasi perasaan sedih, tidak berdaya, ada pikiran-pikiran negatif. Kadang disertai sulit tidur atau terlalu banyak tidur, dan sulit makan atau terlalu banyak makan.
Selain itu, lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bisa membuat para karyawannya bekerja dalam situasi yang aman, menjalankan fungsi dan wewenang sebagai bagian dari tim kerja dengan baik, dan bisa membuat karyawan termotivasi untuk bekerja secara optimal.
Sedangkan kondisi kerja yang menganggu berupa lingkungan fisik yang kurang kondusif atau kurang nyaman.
"Misalnya ruangan yang terlalu sempit, terlalu bising karena suara mesin atau terlalu banyak orang, suhu udara yang ekstrim serta pekerjaan-pekerjaan di lokasi yang menantang, seperti lepas pantai, lokasi tambang di bawah tanah, di gedung pencakar langit juga bisa menimbulkan masalah psikologis bagi sebagian karyawan," tambah Lyly.
Ia mengemukakan lingkungan tidak sehat lainnya berupa keselamatan yang tidak disediakan, relasi atasan dengan karyawan yang tidak harmonis, sistem upah dan penghargaan kerja yang kurang memuaskan, beban kerja yang terlalu berat, bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi karyawan.
Menurutnya, hal tersebut pada awalnya bisa memunculkan ketidakpuasan kerja, kemudian stres kerja yang jika tidak tertangani segera dan berkelanjutan, bisa menjadi masalah psikologis yang lebih serius, salah satunya depresi.
"Perlu dipahami kalau pengertian stres dan depresi itu berbeda. Indikasi stres dimana karyawan sedang dihadapkan pada tugas dengan tenggang waktu yang sempit dan dianggap akan sulit menyelesaikannya. Kondisi ini menyebabkan dia menjadi cemas, tegang, sulit berpikir. Sedangkan depresi yang didominasi perasaan sedih, dan ada pikiran-pikiran negatif dan tak jarang disertai keinginan untuk bunuh diri," jelas Lyly Puspa Palupi S dikonfirmasi di Denpasar, Rabu.
Ia menerangkan secara merinci bahwa pengertian stres dan depresi itu berbeda. Stres adalah kondisi seseorang yang tergugah secara fisik, emosi dan perilaku ketika menghadapi situasi yg dipersepsikan oleh dirinya sebagai suatu tantangan atau melebihi kapasitas dirinya. Sedangkan Depresi adalah kondisi suasana hati yang didominasi perasaan sedih, tidak berdaya, ada pikiran-pikiran negatif. Kadang disertai sulit tidur atau terlalu banyak tidur, dan sulit makan atau terlalu banyak makan.
Selain itu, lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bisa membuat para karyawannya bekerja dalam situasi yang aman, menjalankan fungsi dan wewenang sebagai bagian dari tim kerja dengan baik, dan bisa membuat karyawan termotivasi untuk bekerja secara optimal.
Sedangkan kondisi kerja yang menganggu berupa lingkungan fisik yang kurang kondusif atau kurang nyaman.
"Misalnya ruangan yang terlalu sempit, terlalu bising karena suara mesin atau terlalu banyak orang, suhu udara yang ekstrim serta pekerjaan-pekerjaan di lokasi yang menantang, seperti lepas pantai, lokasi tambang di bawah tanah, di gedung pencakar langit juga bisa menimbulkan masalah psikologis bagi sebagian karyawan," tambah Lyly.
Ia mengemukakan lingkungan tidak sehat lainnya berupa keselamatan yang tidak disediakan, relasi atasan dengan karyawan yang tidak harmonis, sistem upah dan penghargaan kerja yang kurang memuaskan, beban kerja yang terlalu berat, bidang yang tidak sesuai dengan kompetensi karyawan.
Menurutnya, hal tersebut pada awalnya bisa memunculkan ketidakpuasan kerja, kemudian stres kerja yang jika tidak tertangani segera dan berkelanjutan, bisa menjadi masalah psikologis yang lebih serius, salah satunya depresi.
Pewarta : Ayu Khania Pranishita
Editor : Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
RSBP Batam antisipasi risiko depresi paslon pilkada gagal dengan respon dini
29 November 2024 13:54 WIB, 2024
Psikolog: Judi online ganggu kesehatan mental hingga sebabkan depresi
10 October 2024 16:17 WIB, 2024
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Polres Lingga tanam 200 bibit pohon pisang guna dukung program ketahanan pangan
31 January 2026 16:18 WIB