Logo Header Antaranews Kepri

Limbah Bauksit Sei Nam Laut Cemari Perairan

Selasa, 22 Februari 2011 17:32 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA News) - Limbah hasil pencucian bauksit dari beberapa perusahaan tambang di Sei Nam Laut, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau mencemari perairan setempat setelah waduk penampung limbah jebol.

Pencemaran laut yang mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut tersebut terungkap dalam dengar pendapat belasan nelayan Sei Nam Laut dengan Komisi I DPRD Bintan di Tanjungpinang, Selasa.

"Sebenarnya hasil tangkapan ikan nelayan menurun drastis sejak tiga tahun lalu akibat pencemaran limbah bauksit, namun puncaknya pada saat hujan lebat pada 29 dan 30 Januari 2011 yang menyebabkan tanggul penahan limbah jebol dan mengakibatkan nelayan berhenti melaut," kata pimpinan rombongan nelayan, Musafa Abbas saat mengadu ke Komisi I DPRD Bintan.

Dia mengatakan, selama ini nelayan cukup bersabar karena tidak ingin menghambat investasi dan pemasukan untuk pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Bintan, namun akibat beberapa pihak perusahaan tambang yang berada di Sei Nam tidak merespon, nelayan minta pertanggungjawaban.

"Nelayan pernah menerima dana kompensasi tambang (DKT) beberapa waktu lalu setelah berunjuk rasa, namun tidak bisa menutupi kerugian yang ditimbulkan pencemaran," ujarnya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Desa Sei Nam, Salim mengatakan, tempat nelayan mencari ikan dan kepiting di hutan bakau Sei Nam juga sudah rusak dan penuh lumpur bauksit.

"Nelayan berharap DPRD bisa meninjau ulang dokumen lingkungan perusahaan tambang di Sei Nam dan mencari solusi terbaik untuk nelayan," ujarnya.

Ketua Komisi I DPRD Bintan, Manimpo Simamora mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan ke lokasi pencemaran yang disebutkan nelayan dengan mengikutsertakan Dinas Pertambangan, Badan Lingkungan Hidup dan pihak perusahaan tambangyang terdiri dari PT Wahana, Bintang Cahaya Terang dan PT Harap Panjang.

"Jalan keluar terbaik akan diusakan setelah dilakukan pengecekan ke lokasi tambang dan daerah tangkapan nelayan yang tercemar dengan melibatkan semua pihak," ujarnya.

(ANT-HM/Btm1)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026