
PKNTT Batam Damping Sembilan Pekerja

Batam (ANTARA News) - Pengurus Persatuan Keluarga Nusa Tenggara Timur atau PKNTT Kota Batam, Kepulauan Riau, mendampingi sembilan pekerja yang mengadu ke Markas Kepolisian Sektor Lubukbaja dalam kasus penganiayaan di tempat penampungan PT Tugas Mulia.
"Dua orang akan kami bawa ke rumah sakit karena sakit keras. Tujuh orang, kami tempatkan sementara di rumah pendeta di Batam Kota," kata Ketua PKNTT Kota Batam, Rofinus Loren, Rabu siang.
Sebelumnya, kesembilan pekerja dimintai keterangan oleh petugas di Markas Polsek Lubukbaja dari Selasa malam hingga Rabu pukul 01.30 WIB dan pada pukul 03.00 WIB dibawa PKNTT Batam untuk diistirahatkan di Hotel Bahari.
Kantor dan penampungan pekerja yang dikelola Tugas Mulia di ruko Golden Gate Blok B No 1, kawasan Jodoh, Lubukbaja Batam, pada Selasa petang digerebek aparat kepolisian dan warga atas pengaduan Yustina (29), seorang pekerja asal NTT yang sudah 16 bulan berada di Batam dan melalui Tugas Mulia telah 10 kali berganti majikan pembantu rumah tangga.
"Saya sudah 10 kali berganti majikan. Setiap dikembalikan ke penampungan, kena pukul," kata Yustina.
Kepada polisi ia menunjukkan tanda lebam di dada, pinggang kanan dan paha kanan.
"Saya pernah melihat Yustina dipukul Ace (kakak perempuan) Rusna (Direktris Tugas Mulia) pakai sepatu hak tinggi," kata Petrus Atok Bere (20).
Petrus, asal NTT sudah sebulan bekerja di sebuah penginapan selaku petugas kebersihan, tetapi /oleh majikan tdak diberi sarapan pagi dan gaji yang diterima hanya Rp650 ribu padahal oleh agen di Kupang dijanjikan Rp1,2 juta/bulan.
Ia mengatakan mengerti kalau hanya tiga bulan gaji dipotong untuk pengganti ongkos pesawat terbang ke Batam, tetapi tidak bisa menerima bila pada bulan keempat hingga dua tahun tetap hanya Rp650 ribu.
"Itu yang saya tidak mau. Saya kerja juga 'cape' (lelah)," kata Petrus, tamatan sekolah dasar Atambua.
Seorang perempuan dari sembilan pekerja itu, tampak tidak bisa diperiksa petugas karena hanya menatap kosong dan tidak merespon pertanyaan siapapun.
"Dia 'sakit'. Seharusnya dipulangkan ke kampung," kata Yuliana (32), asal NTT yang baru 12 hari berada di Batam melalui Tugas Mulia dan dipulangkan kepenampungan karena muntah darah di dua tempat majikan berbeda.
Ruko Tugas Mulia berlantai tiga. Pekerja, umumnya asal NTT, ditampung dilantai III. Lantai II untuk kantor perusahaan, dan lantai bawah untuk kedai makanan.
Beberapa penghuni penampungan mengatakan tetap diberi makan, tetapi sering ditampar kalau keluar dari lantai III.
Di ruang kerja Kanit Reskrim Polsek Lubukbaja, Ipda Chrisman Panjaitan, Direktris PT Tugas Mulia, Rusna, kepada ANTARA mengatakan, perusahaannya telah beroperasi dua tahun dan sekitar 200 orang asal NTT, kecuali yang sembilan orang itu, telah dipekerjakan, dan umumnya berhasil.
"Saya punya pangggilan untuk membantu orang-orang miskin dari NTT untuk bekerja di Batam. Saya bukan perusahaan jasa pengerah tenaga kerja Indonesia. Mereka yang saya rekrut hanya untuk Batam," katanya.
Ia membantah menyekap 200 pekerja. "Bagaimana menyekap, lantai II untuk kantor dan lantai I untuk kedai. Jumlah 200 orang itu adalah bertahap dalam dua tahun dan telah banyak yang berhasil. Tudingan penyekapan adalah fitnah," katanya
Mengurus banyak orang, katanya, kadang-kadang terbawa emosi karena ada yang kasar, mengeluh sakit padahal malas, dan berbohong sehingga berganti-ganti majikan dan kembali ke penampungan.
"Meski kasar, mereka adalah anak-anak saya. Saya bukan orang kaya, hanya bekerja dengan iman. Mendoakan yang mengalami kuasa kegelapan. Tetapi, saya juga manusia biasa dan bisa emosional," kata Rusna.
Tentang seorang pekerja yang beberapa waktu lalu meninggal di rumah sakit, ia mengatakan telah dimakamkan dan sudah pula diuruskan program Jamsostek-nya.
"Itu sudah lama diselesaikan," katanya.
Angelinus, tokoh warga NTT di Batam, mempertanyakan, apakah benar jenazah pekerja itu telah dipulangkan ke agen pengirim tenaga kerja di Kupang.
Di halaman Markas Polsek Lubukbaja, Aba Wahid, warga NTT berpendapat, kesalahan hendaknya tidak 100 persen ditimpakan pada Tugas Mulia di Batam, sebab justru agen penyalur di Kupang sendiri yang demi komisi mengirim orang sakit, stres, malas.
Niat Tugas Mulia di Batam, baik, yaitu membantu orang mempunyai pekerjaan di Batam, tetapi perusahaan ini menanggung masalah ketika orang-orang yang dikirim adalah orang stres, malas, dan tidak siap bekerja sejak dari Kupang, kata Aba.
Ketua PKNTT Batam Rofinus Loren mengemukakan akan mendampingi para pekerja asal NTT dan tidak serta merta mempercayai kata-kata pengelola Tugas Mulia.
(ANT-JSB/Btm1)
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
