
Nelayan Karimun Libur Karena Cuaca Buruk

Karimun (ANTARA Kepri) - Nelayan tradisional di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau libur dari melaut karena cuaca di laut berangin kencang dan bergelombang besar."Sudah sepuluh hari kami tidak menangkap ikan karena cuaca kurang bersahabat," kata Nasir, nelayan tradisional asal Kecamatan Meral, Selasa.Nasir mengatakan gelombang besar disertai angin kencang sering muncul mendadak sehingga dapat membahayakan keselamatan, apalagi menggunakan sampan tradisional yang rawan terhempas gelombang."Sejak tak bisa ke laut, kami kehilangan mata pencaharian dari menangkap ikan. Sebagai gantinya saya beralih menjadi buruh bangunan," ucapnya.Nelayan Tebing, Sudirman mengatakan perairan Takong Hiu tempat ia biasa menangkap ikan sedang bergelora akibat pergantian musim angin barat ke musim utara.Perairan Takong Hiu yang berbatasan dengan Selat Malaka merupakan daerah pusaran arus dari sejumlah perairan, seperti dari perairan Rangsang, Selat Malaka dan Selat Singapura.Saat ini, kata dia, ketinggian gelombang di Takong Hiu dapat mencapai dua hingga lima meter."Jangankan pompong (kapal motor kecil) berbobot 5 GT yang saya miliki, kapal besar saja bisa tenggelam. Kalau tidak karena kemasukan air, kapal bisa tenggelam akibat lambung kapal pecah dihantam gelombang," ucapnya.Ketua Gabungan Nelayan Tradisional Karimun (GNTK) Acai Lim mengatakan banyak nelayan tradisional terpaksa menambatkan perahunya menunggu cuaca di laut membaik."Di Pulau Karimun Besar saja, terdapat ratusan nelayan tradisional yang tidak ke laut menangkap ikan. Kondisi ini biasa terjadi pada akhir tahun. Kami memperkirakan cuaca buruk akan terjadi hingga Tahun Baru Imlek pada 23 Januari nanti," ucapnya.Acai mengatakan, sebagian nelayan beralih menjadi pekerjaan lain, sebagian lainnya menganggur."Kalau pun ada yang turun ke laut, mereka memilih menangkap ikan di sekitar pulau-pulau kecil agar bisa berlindung jika cuaca mendadak berubah menjadi buruk," kata dia. Dia mengimbau nelayan tradisional untuk waspada dan membekali diri dengan perlengkapan keselamatan jika memaksakan diri untuk menangkap ikan."Banyak nelayan yang nekat ke laut karena menyangkut kelangsungan hidup. Kalau tidak ke laut, dari mana mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," tuturnya. Dia menambahkan banyak kapal ikan bersandar di sepanjang pantai Meral dan Tebing sejak pekan lalu karena para nelayan berhenti melaut dan menunggu cuaca membaik.(RD/S006)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
