
Biaya Angkut Limbah Bebani Batam

Batam (ANTARA Kepri) - Biaya angkut limbah yang tinggi membebani pengusaha sehingga mengurangi daya saing Kota Batam sebagai satu kawasan industri bergengsi di Asia Pasifik.
"Pengiriman limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) dari Batam ke Cileungsi, Jawa Barat, mengakibatkan biaya tinggi, dan itu mengurangi daya saing," kata Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Batam Dendi Poernomo di Batam, Jumat.
Saat ini, pengelolaan limbah bahan beracun berbahaya masih terpusat di Cileungsi, padahal industri di Batam banyak menghasilkan limbah B3 yang harus dibuang.
Selain biaya angkut, kata dia, limbah B3 yang dikirim ke luar Batam juga dikenakan pajak, karena dianggap ekspor, mengingat Batam diperlakukan sebagai kawasan di luar pabean Indonesia.
"Ada perbedaan pendapat bahwa barang yang keluar dari kawasan perdagangan bebas ke kawasan pabean Indonesia harus membayar pajak, termasuk pengiriman limbah dari Batam ke Cileungsi," kata Dendi.
Dendi meminta pemerintah pusat membuat terobosan dengan mengeluarkan kebijakan agar limbah B3 yang berasal dari Batam dikelola seluruhnya di Batam.
Saat ini, kata dia, sebanyak 375 perusahaan menghasilkan limbah B3. Dalam setahun, 375 perusahaan tersebut menghasilkan sedikitnya 35 ribu ton limbah B3.
Dari angka tersebut, sekitar 60 persennya dikirim ke Cileungsi, untuk dikelola. Sisanya sebanyak 40 persen di kelola di kawasan pengolahan limbah industri (KPLI) di Kabil, Batam.
"Kami harapkan ke depannya pengelolaan limbah akan sebaliknya, 40 persen dikirim ke Cileungsi, dan 60 persen dikelola di Batam," kata Dendi.
Sementara itu, dari 375 perusahaan, sebanyak 365 perusahaan sudah mengelola limbah berdasarkan manifest, sedangkan yang belum mengelola sebanyak 13 persen.
"Yang sudah mengelola limbah B3 hingga akhir 2011 sebanyak 367 perusahaan atau 97,86 persen," kata Dendi.
(Y011/E005)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
