Logo Header Antaranews Kepri

Abdul Hamid Pemimpin Sejati dari Pulau Buluh

Kamis, 19 April 2012 14:25 WIB
Image Print
Foto Abdul Hamid ( Evy R. Syamsir)

Kalaulah ada penghargaan sebagai ketua Rukun Tetangga teladan atau terlama, tentulah di raih Abdul Hamid Yusuf (85), ketua RT 08 RW 03 Kelurahan Pulau Buluh, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Betapa tidak, sejak tahun 1970 disaat usianya 43 tahun dia telah menjadi ketua RT di pulau yang hanya berjarak sekitar satu mil dari Kota Batam. Dan, kini diusia senjanya jabatan tersebut masih dipercayakan masyarakat padanya.

Dah berulang kali saya menolak untuk dicalonkan lagi tiap masa jabatan habis, namun saya yang dipilih kembali dan saya tidak mampu karena masyarakat ingin saya melayani mereka, ujar Abdul Hamid saat ditemui di kediamannya di Pulau Buluh, Selasa (17/4).

Menjadi ketua RT dalam kurun waktu puluhan tahun bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan, apatah lagi tiap tahun jumlah warga yang harus dilayaninya terus bertambah. Namun, tanggungjawab yang harus dipikulnya dalam memberikan pelayanan masyarakat mau tak mau tetap diembankannya.

Hamid, ayah dari 12 anak, kakek dari 41 cucu, buyut bagi 14 cicitnya dan telah 12 tahun ditinggal almarhum istrinya Fatimah, itu berujar percayanya masyarakat pada dirinya karena warganya yang lain takut menjadi ketua RT. Tugas sebagai ketua RT adalah murni tugas sosial.

Saya jadi ketua RT karena warga lain tidak ada yang berani, katanya seraya tergelak.
Pria renta berperawakan tinggi dan berkulit putih yang lahir pada tahun 1927 itu tahu betul menjalankan tugas sebagai pemimpin. Hal itu dibuktikannya selama puluhan tahun ia menjabat sebagai ketua RT dengan warga yang mayoritas multi etnis tidak pernah terjadi pertikaian atau amuk antar suku.

Pulau Buluh yang luasnya hanya sekitar 5,5 kilometer persegi dihuni sekitar 800 kepala keluarga yang berasal dari berbagai suku yakni Melayu, Flores, Cina, Minang, Jawa, Bugis, Banjar dan Batak itu hidup berdampingan dengan rumah panggung yang padat mengelilingi pulau.

Semula, pulau yang berada di sebelah barat Pulau Batam itu hanya ada tiga RT, namun seiring pesatnya perkembangan Batam kini telah menjadi 11 RT. Pertambahan penduduk dengan berbagai permasalahan dapat diatasi Hamid dengan cara memberikan keteladanan yang baik pada masyarakatnya.

Baginya, jika pemimpin akur dengan keluarga, jujur, menepati janji, bertindak arif dan tidak memihak pada satu kelompok tertentu maka warga yang dipimpinnya juga akan menjadikannya panutan. Itulah sebabnya dia berulang kali pula terpilih kembali untuk menjadi ketua RT.

Menjadi pemimpin itu susah. Kita harus mengutamakan kepentingan masyarakat baru kepentingan keluarga dan diri sendiri. Kadang tengah malam warga datang ke rumah karena ada masalah, tetap saya layani. Permasalahan di warga bermacam-macam, katanya.

Apatah lagi, lanjut dia, menjadi pemimpin yang tidak digaji sedangkan keluarga harus dihidupi pula maka banyak tantangan dan godaan dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat . Namun lakon tersebut mampu diatasinya dengan kehidupan sederhananya.

Ia mengakui, pertama kali menerima honor karena jabatannya sebagai Ketua RT adalah empat tahun lalu dengan jumlah honor hanya Rp300.000 selama setahun. Tahun berikutnya meningkat menjadi Rp600.000.

Tahun kemarin Rp900.000. Tahun ini tak tahu pulak berapa honornya, ujar Hamid dengan logat Melayu yang kental.

Honor yang diperolehnya dari pemerintah daerah itu bukanlah tujuannya untuk menjalankan tugas jabatannya karena selama puluhan tahun sebelumnya dia benar-benar menjalankan tugas bakti bagi kerukunan masyarakat di pulaunya.

Puluhan tahun menjadi teladan bagi keluarga dan warganya dapat dilihat dari kehidupan sederhana yang dilakoni Hamid. Rumahnya amat sederhana dan tidak ada barang mewah yang dimiliki. Mantan Heiho (tentera pembantu) pada masa Jepang itu tahu betul menempatkan diri dan sadar akan tanggungjawabnya.

Sejak kecil ia telah didik oleh ayahnya Muhammad Yusuf, seorang polisi di masa Belanda agar hidup jujur dan tidak mengejar kesenangan duniawi. Sehari-harinya ia menghidupi keluarganya seperti warganya yang lain sebagai nelayan tradisional.

Bahkan, ia juga rela melepas pekerjaannya sebagai Pegawai Pembantu Pencatat Nikah (P3N) Kandepag Batam setelah 10 tahun bekerja demi lebih dapat mengabdi pada masyarakatnya di Pulau Buluh. Padahal, pada masa mudanya itu penjabat P3N sangat diminati, tetapi dia malah mundur dari pekerjaannya.

Menjadi pemimpin sebagai ketua RT sebetulnya sangat berat dan itu sebabnya tidak ada yang sudi, katanya.

Aktivitasnya dimasa muda dirasakannya betul membawa berkah diusia senjanya. Betapa tidak catatan sejarah yang ditorehkannya dalam kehidupannya tidak menjejaskannya hingga masa tuanya.

Saat remaja pada masa pendudukan Jepang ia bergabung dengan Heiho dengan pangkat terakhir Sersan I. Setelah Jepang kalah, dia kembali menjadi masyarakat biasa dan menolak tawaran untuk bergabung dengan militer.

Saat gabung dengan Heiho saya ditanya setelah usai perang mau kemana apakah tetap di militer atau kembali ke masyarakat? Saya jawab kembali menjadi masyarakat biasa. Itu sebabnya setelah merdeka dan Jepang kalah, saya memilih menjadi masyarakat biasa karena saya dah berjanji , katanya.

Walau tidak menamatkan sekolah rakyat, namun ia mampu menjadi pemimpin yang disegani. Kini, dirumahnya yang amat sederhana silih berganti orang datang tidak hanya warga kampungnya tapi juga penguasa negeri.

Apa yang dapat saya bantu ya saya bantu. Jika ada permasalahan tentu diselesaikan agar tercipta kerukunan. Jika masyarakat tidak rukun maka pemerintah tidak akan dapat melaksanakan pembangunan dan yang rugi tentu masyarakat. Tugas ketua RT-lah sebagai pejabat paling bawah untuk menentramkan masyarakat, ujar Hamid.



Pewarta :
Editor: Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026