
INSA Diminta Dukung Program Nusantara Pendulum

Batam (ANTARA Kepri) - Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono meminta pelaku pelayaran yang tergabung dalam Indonesian National Shipowner Association (INSA) mendukung program "Indonesia International Gateway" (Kapal Nusantara Pendulum) penghubung seluruh Indonesia.
"Kami tengah menyiapkan konsep transportasi terpadu Nusantara Pendulum berupa pelayaran dari Belawan Sumatra Utara menuju Sorong Papua untuk mengangkut semua hasil dari masing-masing daerah. Ini harus didukung oleh INSA selaku organisasi para pemilik kapal," kata dia di Batam, Jumat.
Pelayaran satu rute terjadwal (pendulum) itu akan menghubungkan Pelabuhan Belawan Sumatra Utara, Pelabuhan Batuampar Batam, Pelabuhan Tanjungpriok Jakarta, Tanjungperak Surabaya, Pelabuhan Makasar dan Pelabuhan Sorong di Papua.
"Nanti dari masing-masing tempat persinggahan akan mengangkut barang-barang untuk dibawa ke wilayah lain yang membutuhkan. Pelayaran ini akan mengisi ruang tengah laut Indonesia," kata wamen.
Ia berharap, dengan pelayaran tersebut pergerakan logistik dalam negeri bisa diawasi dan lebih efisien.
Ketua umum INSA, Carmelita Hartato mengatakan program Kementerian Perhubungan tersebut merupakan konsep yang baik namun masih perlu kajian lebih jauh.
"Rencana tersebut memang bagus, namun untuk melaksanakannya perlu dukungan infrastruktur pelabuhan dan pemerataan industri di seluruh Indonesia. Karena, kapal yang digunakan berukuran besar," kata dia.
Ia mengatakan, bila setiap daerah persinggahan belum memiliki pelabuhan dan industri yang memadai sehingga menghasilkan barang yang banyak untuk bisa diangkut kapal besar, justru akan membuat ongkos angkut tinggi dan tidak efektif.
"Rencanannya kapal yang digunakan mampu memuat 3.000 TEUs. Sementara daerah yang menghasilkan produk besar baru di wilayah barat Indonesia. Jadi tidak akan efektif jika dipaksa berlayar ke Indonesia bagian timur dengan kapal yang besar," kata dia.
Jika berbagai kendala tersebut belum bisa diatasi maka, Pendulum Nusantara justru akan menimbulkan masalah baru bagi pebisnis logistik dan pengguna transportasi lain. (KR-LNO/A013)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
