
Harga Cengkih di Natuna Turun

Batam (ANTARA Kepri) - Harga cengkih di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dalam tiga bulan terakhir terus anjlok dan mengakibatkan petani rugi karena harga produksi tidak sesuai dengan harga jual.
"Di tingkat petani, cengkih hanya di harga Rp60.000 per kilogram. Harga cengkih Natuna terus turun dan ini sangat mengkuatirkan," kata anggota DPRD Kepulauan Riau Sofyan Syamsir sata dihubungi di Ranai, Minggu.
Harga cengkih sebelum panen raya antara bulan April dan Mei lalu mencapai Rp95.000 per kilogram, tapi kemudian seiring masa panen harga komoditas perkebunan unggulan Natuna itu terus merosot dan tidak sesuai harga produksi.
Harga produksi, baik upah panjat batang cengkih maupun upah petik tangkai bunga cengkih masih dibayar pemilik kebun dengan harga tinggi.
Biasanya upah panjat cengkih separuh harga jual cengkih dan upah petik tangkai juga ditentukan dari harga jual. Makin mahal harga cengkih maka upah panjat mahal begitu juga upah petik.
"Namun, sayangnya begitu panen harga cengkih anjlok," ujar Sofyan.
Ia mencontohkan, sebelum panen harga cengkih Rp90.000/kilogram dan pemilik kebun masih menghitung harga jual tersebut sebagai patokan untuk upah pemanjat pohon karena biasanya upah separuh harga jual cengkih. Sedangkan upah petik Rp10.000/kilogram.
Namun, setelah cengkih dibawa ke pedagang pengumpul harganya turun cukup drastis dan tidak lagi sesuai biaya operasional yang telah dikeluarkan.
Padahal, jika cengkih tinggi maka upahnya tinggi pula, tetapi jika harga cengkih rendah maka upah untuk pemanjat atau pemetik tangkai murah.
"Rendahnya harga cengkih ini sangat dikuatirkan masyarakat karena kebutuhan makin bertambah seiring masuknya bulan puasa, kebutuhan Hari Raya dan tahun ajaran baru bagi sekolah anak-anak mereka," ujar Sofyan.
Menurut dia, saat ini cengkih banyak menumpuk di rumah-rumah masyarakat dan pedagang pengumpul pun enggan untuk membawa keluar "emas coklat" itu karena harganya yang rendah. Biasanya cengkih Natuna yang perkebunannya banyak terdapat di Kecamatan Midai dibawa ke Pontianak.
"Murahnya harga cengkih ini bukan baru kali ini saja terjadi dah berulang kali dan masyarakat petani juga yang makin menjerit. Tidak adanya penanganan khusus dari pemerintah pusat untuk dapat menetapkan harga jual cengkih atau tata niaga cengkih yang menjadi penyebab harga tak menentu," ungkap Sofyan. (E010/C004)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
