
Optimalisasi Babinsa Jaga Kedaulatan di Perbatasan

KETAHANAN nasional di perbatasan tidak hanya diwujudkan melalui penguatan alat utama sistem kesenjataan (alutsista), melainkan dengan pembangunan interaksi dan penetrasi yang intens antara prajurit dan rakyat sebagai bagian dari konsep pertahanan semesta.
Konsep ini menjadi penekanan penting bagi Komando Distrik Militer (Kodim) 0317/Karimun, Provinsi Kepulauan Riau dalam menjalankan fungsinya sebagai alat pertahanan negara di Kabupaten Karimun yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.
"Pertahanan semesta adalah kekuatan paling ampuh dalam menjaga kedaulatan NKRI," demikian disampaikan Komandan Kodim 0317 Karimun Letnan Kolonel (Inf) Edi Nurhabad.
Pertahanan semesta menjadi penyeimbang bahkan sangat strategis ketika upaya modernisasi dan penambahan alutsista TNI dihadapkan pada keterbatasan anggaran negara.
Ia mengakui alutsista yang tersedia di jajaran Kodim Karimun masih sangat kecil jika dibandingkan dengan luas wilayah dan kondisi geografis Karimun yang terdiri dari 249 pulau, baik berpenghuni maupun tidak.
"Kita tidak usah berbicara alutsista. Jumlah personel saja masih kurang, baru 70 persen dari jumlah yang ideal untuk komando kewilayahan setingkat Kodim. Kami juga memahami penambahan pasukan dari komando atas tentu harus melalui berbagai pertimbangan serta disesuaikan dengan kemampuan anggaran negara," ucapnya.
Penerapan konsep pertahanan semesta harus dilakukan mulai dari bawah, salah satunya dengan mengoptimalkan peranan strategis Bintara Pembina Desa (Babinsa).
Babinsa menjadi ujung tombak dalam membaca serta mendeteksi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang dapat merusak sendi-sendi pertahanan negara.
"Unsur Babinsa ujung tombak dalam mewujudkan kesadaran bela negara. Ia harus mampu membaur dengan masyarakat, bisa mengelola dan menguasai kondisi sosial di tengah-tengah masyarakat. Dia juga harus bisa membentuk perlawanan rakyat dalam konteks pertahanan semesta bila negara diganggu kekuatan asing," tuturnya.
Babinsa memang memiliki pangkat yang paling rendah, namun berada pada posisi paling tinggi dalam sistem pertahanan semesta.
Peranan Babinsa tidak hanya mendeteksi ancaman dari luar maupun dalam, tetapi menjalankan fungsi sosial sebagai sumbangsih TNI kepada masyarakat.
"Ibarat pepatah, jarum jatuh pun Babinsa harus tahu. Babinsa harus peka terhadap permasalahan di tengah masyarakat, penetrasi yang intensif akan menumbuhkan kecintaan rakyat terhadap tentaranya," ucapnya.
Meski demikian, jumlah Babinsa di lingkungan Kodim 0317/Karimun masih kurang dibandingkan jumlah kelurahan dan desa yang mencapai 54.
Babinsa baru terbentuk di 32 kelurahan/desa pada empat Komando Rayon Militer (Koramil), masing-masing Koramil Tanjung Balai Karimun, Kundur, Tebing dan Moro. Setiap Koramil memiliki personel rata-rata 15 orang.
"Jumlah personel di Koramil juga masih kurang. Untuk menyiasatinya, kami menggerakkan personel di Kodim untuk ditempatkan di Koramil karena akan lebih efektif jika mereka ditempatkan di sana," ucapnya.
Sedangkan untuk Babinsa, masih ada yang harus meng-"cover" lima atau enam pulau.
Namun demikian, Kodim telah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk membentuk koramil baru, yaitu Koramil Kundur Barat dan Kundur Utara, kemudian Koramil Durai yang merupakan wilayah paling jauh di bagian selatan Karimun, tutur dia.
Dengan pembentukan Koramil, lanjut dia, otomatis menambah jumlah Babinsa sehingga daya jangkau menuju pulau-pulau lebih efektif dan efisien.
Mengenai penguatan personel di perbatasan, khususnya di Koramil Tebing yang memiliki dua pulau terluar, masing-masing Takong Hiu dan Takong Hiu Kecil, Kodim Karimun menekankan agar Babinsa menjalankan target operasi personel (TOP) dalam penguasaan medan dan wilayah.
"Peranan personel Babinsa di daerah terluar harus 100 persen. Satu Babinsa membawahi sekitar 250 kepala keluarga. Itulah kekuatan kami di samping kekuatan TNI AL dalam mengamankan perairan perbatasan dari gangguan asing," kata dia.
Kekuatan Kompi
Selain mengoptimalkan peranan Babinsa, Kodim Karimun juga memiliki kekuatan yaitu Kompi Senapan B Batalyon Infanteri 134/Tuah Sakti.
"Kompi ini, ibarat macan yang saya besarkan di kandang, saya tajamkan mereka melalui latihan-latihan. Agar suatu saat memiliki kesiapan untuk memukul ancaman dan gangguan. Konsep yang saya gunakan dalam memberdayakan kompi adalah pembinaan teritorial terbatas. Mereka harus mampu membina masyarakat di wilayahnya," ucapnya.
Kompi Senapan B yang bermarkas di Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral memiliki personel sekitar 130, masih kurang dari jumlah personel yang ideal yaitu sekitar 175 orang.
Kompi tidak hanya sebagai sebuah kekuatan pasukan, tetapi menjadi kekuatan bagi TNI dalam mewujudkan kesadaran bela negara melalui berbagai kegiatan sosial, semisal program TNI Manunggal Masuk Desa dan program lainnya.
"Jadi, kita kembali ke pembahasan awal bahwa kesadaran bela negara menjadi kekuatan yang paling ampuh dalam mewujudkan konsep pertahanan semesta. Kesadaran bela negara harus terus tumbuh untuk menangkal budaya asing yang mulai menggeser budaya lokal," ucapnya.
Dia berharap segenap prajurit di Kompi maupun Babinsa menjadi dinamisator dalam mendorong dan merangkul semua komponen bangsa yang terdiri dari berbagai suku untuk mewujudkan ketahanan nasional.
"Inilah peranan TNI dalam mengamankan daerah perbatasan, yaitu memperkuat tiga aspek dalam mewujudkan pertahanan semesta, yaitu aspek geografis, demografis dan kondisi sosial," ucapnya.
Kekuatan Ekonomi
Penguatan pertahanan di daerah perbatasan, kata Edi Nurhabad, juga harus dilakukan dengan membangun kekuatan ekonomi agar peristiwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia tidak terjadi di Karimun.
"Daerah perbatasan akan semakin kuat jika didukung kekuatan ekonomi, di mana sektor perdagangan, jasa, industri dan kualitas sumber manusia makin maju. Tidak ada kata lain, klaim seperti Sipadan dan Ligitan terjadi akibat faktor ekonomi sehingga rasa cinta kepada negara menjadi luntur," katanya.
Dia menilai, perkembangan pembangunan di Karimun cukup pesat sebagai dampak dari eforia Otonomi Daerah.
"Kalau kondisi Karimun seperti zaman dulu, mungkin Pulau Takong Hiu sudah diklaim oleh negara lain," katanya.
Selain itu, kata dia lagi, rasa cinta dan bangga terhadap Tanah Air akan terwujud jika pada setiap jiwa masyarakat memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 45.
"Kami juga mengajak rekan-rekan stakeholder, termasukk semua komponen masyarakat untuk mengimplementasikan kesadaran bela negara sebagai modal dasar dalam mengamankan daerah perbatasan," tambahnya.
Tantangan dan Hambatan
Dandim Edi Nurhabad juga mengatakan, optimalisasi peranan Kodim dalam memantau kondisi masyarakat di pulau-pulau masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan hambatan, salah satunya tidak tersedianya sarana transportasi laut untuk memobilisasi prajurit ke pulau-pulau.
"Kami akui Kodim belum memiliki kapal untuk mobilisasi prajurit, sementara kami masih menyewa kapal jika ingin mengunjungi saudara-saudara kami di pulau-pulau. Pergerakan personel di pulau-pulau tidak hanya dalam kaitan cegah tangkal ancaman kedaulatan negara, tetapi untuk membantu masyarakat seperti penanggulangan bencana alam, perbaikan jalan sebagai sumbangsih TNI bagi masyarakat," ucapnya.
Dia berharap Pemkab Karimun memberikan bantuan satu kapal untuk memudahkan jajarannya dalam berkunjung ke pulau-pulau.
"Keterbatasan sarana transportasi itu merupakan tantangan dan hambatan namun itu menjadi sebuah peluang bagi TNI. Kodim tidak akan mundur meski masih dihadapkan dengan berbagai keterbatasan itu," tambahnya. (*)
Editor: Jo Seng Bie
Pewarta :
Editor:
Jo Seng Bie
COPYRIGHT © ANTARA 2026
