Logo Header Antaranews Kepri

Legislator: Minat Baca Remaja Kepri Rendah

Senin, 24 Desember 2012 13:48 WIB
Image Print

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Anggota DPR daerah pemilihan Provinsi Kepulauan Riau, Herlini Amran menyatakan, minat baca masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut masih tergolong rendah.

"Secara umum, penduduk usia remaja remaja di Kepulauan Riau (Kepri) cenderung meninggalkan buku pelajaran sekolah maupun buku yang bermanfaat lainnya, karena mereka lebih suka berkumpul bersama teman-temannya dan melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat," ungkap Herlini yang diusung Partai Keadilan Sejahtera, di Tanjungpinang, Senin.

Ia mengungkapkan, peningkatan sumber daya manusia harus dimulai dengan menumbuhkan minat baca. Tanpa membaca, mustahil sumber daya manusia dapat meningkat.

Untuk menumbuhkan minta baca, kata dia, harus dimulai dari diri sendiri. Orang tua dan guru di Kepri juga harus menjadi contoh, dan mendorong anak-anak dan remaja untuk membaca buku-buku yang berkualitas.

"Membaca juga merupakan salah satu strategi untuk menciptakan pendidikan yang berkarakter," ujarnya.

Menurut dia, kecenderungan minat baca yang rendah bukan hanya terjadi di Kepri, melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), minat baca masyarakat masih jauh dari apa yang diharapkan.

Menurut catatan BPS, pada tahun 2011 sebanyak 90,27 persen penduduk yang berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi, dan hanya 18,94 persen yang menyukai membaca surat kabar atau majalah.

Begitu juga hasil kajian mengenai indeks pembangunan manusia tahun 2011 yang dirilis oleh UNDP menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 124 dari 187 negara di dunia.

"Lebih rendah dibandingkan dengan 5 negara ASEAN lainnya seperti Singapura (26), Brunei Darusalam (33), Malaysia (61), Thailand (103) dan Filipina (112)," ungkapnya.

Kondisi itu menunjukkan keseluruhan kualitas sumber daya manusia masih tergolong rendah dan masih buruknya kualitas pendidikan di indonesia. Secara tidak langsung menggambarkan kondisi minat baca masyarakat Indonesia saat ini.

Salah satu upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kegemaran membaca, maka dibutuhkan peranan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Tahun 2012, PNRI telah melaksanakan "Road Show" Pembudayaan Kegemaran Membaca, salah satunya diadakan di Batam baru-baru ini.

"Permasalahan rendahnya minat baca yang terjadi di Indonesia disebabkan beberapa faktor diantaranya, anggaran yang belum memadai untuk perpustakaan, kurangnya SDM pengelolaan perpustakaan baik di tingkat pusat maupun daerah, belum terintegrasinya penumbuhkembangan minat baca ke dalam kurikulum pendidikan yang ditetapkan pada satuan pendidikan saat ini," kata Herlini yang menjadi naca sumber dalam acara "Road Show" Pembudayaan Kegemaran Membaca, baru-baru ini.

Ia mengemukakan, solusi untuk menumbuhkan minat baca tersebut dimulai dari peran keluarga yang menanamkan cinta baca sejak dini dengan cara mendongeng, membiasakan salah satu tujuan kunjungan/piknik keluarga ke perpustakaan atau ke toko buku dan lain-lain.

Kemudian satuan pendidikan juga mendukung budaya membaca lewat kurikulum yang diajarkan di sekolah, dan pemerintah diantaranya melalui PNRI menjadi garda terdepan dalam upaya pembudayaan kegemaran membaca dengan memberikan fasilitas pendukung yang memadai seperti perpustakaan yang menarik, penyediaan buku murah dan berkualitas, menyediakan sarana perpustakaan di tempat-tempat umum dan mendorong berdirinya rumah baca untuk masyarakat.

"Dengan menumbuhkan budaya gemar membaca diharapkan bangsa Indonesia segera dapat keluar dari keterpurukan menuju bangsa yang maju dan beradab. Tentu peran DPR akan mendorong alokasi anggaran yang berkeadilan bagi pengembangan perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca ini sesuai dengan kinerja yg dilakukan pemerintah," katanya. (ANTARA)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026