
Buruh Pabrik Karet Bintan Bertahan Tolak PHK

Tanjungpinang (ANTARA Kepri) - Puluhan buruh pabrik pengolahan karet PT Pulau Bintan Djaya di KM 14 Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, masih bertahan di luar area pabrik menolak pemutusan hubungan kerja sepihak oleh perusahaan.
"Kami akan terus berjuang menolak pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan meminta perusahaan untuk mempekerjakan kami kembali," kata Ketua Pengurus Unit Kerja Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK FSPMI) PT Pulau Bintan Djaya, Markos, di lokasi pabrik, Kamis.
Markos mengatakan, PHK sepihak yang dilakukan pihak perusahaan tersebut merugikan karyawan dan menyalahi aturan perundang-undangan, selain itu tidak adanya penjelasan yang masuk akal.
"Pada 19 Desember 2012, pihak personalia perusahaan memanggil 36 karyawan satu persatu, kemudian disodorkan dua pilihan surat yang harus ditandatangani, isinya menerima PHK dan menolak PHK," ujar Markos.
Menurut dia, karyawan bingung dan sebagian di antaranya menerima meski pembayaran pesangon tidak dihitung berdasarkan sejak pertama bekerja.
"Kami yang menolak di PHK dan meminta untuk terus dipekerjakan tidak menandatangani surat itu," ujarnya.
Meski menolak di PHK, menurut Markos, pihak perusahaan tidak mau tahu dan melarang karyawan tersebut untuk masuk kerja karena dinyatakan sudah di PHK meski tidak menerima dan tidak menandatangani surat tersebut.
"Seharusnya pihak perusahaan mem-PHK karyawannya mengikuti prosedur dan juga berdasarkan keputusan pengadilan, jika perusahaan tersebut mengaku untuk efisiensi," ujarnya.
Menurut Markos, meski merumahkan 36 orang karyawan tersebut, perusahaan tetap melakukan penerimaan tenaga kerja baru, bahkan karyawan kontrak dijadikan karyawan tetap.
"Sangat aneh, apalagi yang di PHK adalah para pengurus serikat pekerja. Sepertinya perusahaan tidak menginginkan adanya serikat pekerja," ujarnya.
Para karyawan tersebut bertahan sejak Senin (7/1), mereka mendirikan tenda dan memasak di depan perusahaan dengan membawa anak istri.
"Kami sudah melakukan berbagai mediasi tetapi perusahaan tetap ngotot mem-PHK. Pekan depan kami akan melakukan audiensi dengan DPRD Bintan agar bisa dicarikan jalan keluar yang terbaik," ujar Markos.
Perusahaan pabrik karet tersebut masih tetap berjalan, ratusan karyawan yang sebelumnya melakukan aksi mogok sebagai bentuk solidaritas, kembali lagi bekerja karena takut di PHK oleh perusahaan akibat mogok. (ANTARA)
Editor: Rusdianto
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
