Logo Header Antaranews Kepri

Legislator: Keberadaan KCR-40 Perkuat Keamanan Laut

Jumat, 25 Januari 2013 22:07 WIB
Image Print

Jakarta (ANTARA Kepri) - Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, menilai penambahan kapal perang baru jenis apal Cepat Rudal (KCR)-40 yang diberi nama KRI-Baladau-643, yang diproduksi PT Palindo Marine, Batam, akan memperkuat TNI Angkatan Laut (AL) dalam mengamankan wilayah maritim.

"KRI ini akan melengkapi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL," kata Susaningtyas, di Jakarta, Jumat.

Hal itu menanggapi peresmian kapal tersebut oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M., serta pejabat militer dan sipil lainnya bertempat di Tanjung Uncang, Batam, Kepulauan Riau, Jumat.

Ia mengatakan, pembelian kapal jenis KCR itu merupakan komitmen pemerintah dari keberadaan Indonesia sebagai negara maritim. Ini bukan saja membawa penguatan secara ekonomis tetapi juga keamanan lautnya, ujarnya.

Pembelian KCR dari dalam negeri juga sebagai bukti pemerintah untuk memberdayakan industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan membeli alutsista dari luar negeri.

"Perawatan dan pemeliharaan harus dilaksanakan dengan baik agar kegunaannya maksimal. Setiap alutsista baru harus juga disertai kemajuan pengetahuan dan kesejahteraan armadanya," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Hanura itu.

Ke depan, tambah Nuning sapaan Susaningtyas, diharapkan produk-produk Palindo Marine juga dapat memperoleh pemesanan dari luar negeri.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati menuturkan, kehadiran KRI Beladau-643 yang desain dan pembangunannya dilakukan oleh putra-putri bangsa Indonesia akan memperkuat alutsista TNI Angkatan Laut sekaligus meningkatkan kemampuan TNI Angkatan Laut dalam melaksanakan tugas menjaga kedaulatan dan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional.

Untung melanjutkan, KRI Beladau-643 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat pula.

Kapal berukuran panjang 43 meter, lebar 7,40 meter, dan berat 250 ton ini memiliki sistem pendorong handal yang mampu berlayar dan bermanuver dengan kecepatan 27 knot.

"Memiliki daya tembak/hancur yang besar karena dilengkapi persenjataan Rudal C-705," ungkapnya.

Kapal perang ini juga dilengkapi sistem persenjataan canggih berupa Sensor Weapon Control (Sewaco), meriam caliber 30 mm 6 laras sebagai Close in Weapon System (CIWS), dan meriam anjungan 2 unit caliber 20 mm.

KRI Beladau-643 yang diawaki 35 orang ini juga memiliki peralatan navigasi akurat, serta peralatan komunikasi yang mampu digunakan untuk melaksanakan komunikasi antar kapal permukaan dan pesawat udara dalam satu kesisteman.

"Diharapkan mampu mengemban tugas-tugas TNI Angkatan Laut dan juga memberikan efek deterrence bagi pertahanan negara," tuturnya.

Menhan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, penambahan alutsista di laut baik KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) dan KAL (Kapal Angkatan Laut) merupakan jawaban konsekuensi atas kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar adalah lautan.

Selain itu, Indonesia memiliki posisi yang strategis serta memiliki kekayaan alam yang luar biasa, baik potensi perikanan maupun keragaman hayati.

Apalagi Indonesia juga mempunyai selat dan perairan kepulauan nusantara yang merupakan alur pelayaran utama internasional.

"Saya kira sewajarnya kalau kita memberikan perhatian yang besar atas keamanan maritim dengan memperkuat armada laut TNI dalam rangka membangun kemampuan untuk mengamankan wilayah lautnya," tegas Purnomo.

Kapal yang terbuat dari baja khusus 'high tensile steel dan alumunium alloy' ini menggunakan tiga mesin penggerak dengan menerapkan 'system propulsi fixed propeller' lima daun pada baling-baling, sehingga memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi jika berlayar.

KRI Beladau-643 merupakan kapal ketiga, setelah sebelumnya KRI Clurit-641 diresmikan pada April 2011 dan KRI Kujang-642 yang diresmikan pada Februari 2012.

Keberhasilan membangun kapal KCR-40 ini merupakan wujud peran TNI AL dalam memberdayakan kemampuan industri dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. (ANTARA)

Editor: Rusdianto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026