Logo Header Antaranews Kepri

Kemenag Kepri fokus perkuat kerukunan beragama hingga madrasah

Sabtu, 3 Januari 2026 17:28 WIB
Image Print
Kepala Kanwil Kemenag Kepri Zoztafia. ANTARA/Ogen

Tanjungpinang (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tahun pada tahun 2026 fokus terhadap program-program penguatan kerukunan umat beragama hingga madrasah setelah berpisah dengan Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

"Setelah tidak lagi mengurusi haji, Kemenag kini fokus memperkuat kerukunan antarumat beragama, karena apabila tidak rukun, maka program-program pembangunan bisa terganggu," kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Kepri Zoztafia di Tanjungpinang, Sabtu.

Zoztafia mengatakan Kepri merupakan daerah majemuk dengan berbagai suku, agama, dan ras yang hidup berdampingan satu sama lain. Mereka tersebar di tujuh kabupaten/kota setempat.

Di tengah keberagaman masyarakat itu, kata dia, tingkat kerukunan beragama di Kepri secara konsisten tetap tinggi atau berada di posisi tiga besar nasional.

Pada tahun 2024 Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Kepri menempati peringkat dua dengan skor 76,47 atau meningkat dari tahun 2023 dengan skor 76,02

"Untuk IKUB Kepri 2025 hasilnya belum keluar, mudah-mudahan semakin meningkat," ujarnya.

Zoztafia juga menyampaikan sepanjang tahun 2025 tak ada kasus atau gesekan antarumat beragama di Kepri, yang menunjukkan tingginya toleransi dan harmoni yang kuat di tengah keberagaman.

Hal itu, menurutnya, tidak terlepas dari peran pemerintah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama dan masyarakat, serta faktor keamanan dan budaya Melayu yang membuat warga merasa aman dan nyaman hidup di Bumi Segantang Lada tersebut.

"Kalau debat-debat kecil itu sudah biasa, tapi tidak sampai menimbulkan perselisihan apalagi perpecahan," ucapnya.

Selain itu Zoztafia menyampaikan Kemenag Kepri juga memperkuat pendidikan agama dan keagamaan bagi seluruh umat beragama. Tidak hanya Islam, tapi juga Kristen, Hindu, dan Buddha.

Ia menegaskan anak-anak dari keluarga minoritas tetap berhak memperoleh akses pendidikan agama secara penuh, baik melalui satuan pendidikan, tokoh agama maupun orangtua.

"Apalagi sekarang zaman sudah canggih, anak-anak bisa belajar agama melalui Zoom," ungkapnya.

Kemudian pihaknya bakal melakukan evaluasi terkait pelayanan internal yang menyentuh langsung masyarakat, salah satunya di bidang pendidikan madrasah. Kemenag Kepri akan meningkatkan pengelolaan manajemen madrasah secara baik, terutama berkaitan dengan pembinaan guru dan siswa.

Apalagi pada tahun 2025 pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sudah memperbaiki bangunan fisik banyak madrasah di Kepri sebagai penunjang proses belajar dan mengajar.

"Secara fisik, madrasah sekarang sudah bagus. Kita minta madrasah negeri maupun swasta tingkatkan kualitas pengelolaan, khususnya dalam meningkatkan prestasi siswa," ujarnya.

Zoztafia menambahkan dari aspek pelajaran, sekolah madrasah lebih lengkap dibanding sekolah lainnya, karena semua mata pelajaran diajarkan di madrasah, selain kurikulum agama.

Kendati begitu, lanjutnya, kondisi madrasah di Kepri saat ini menghadapi tantangan minimnya tenaga pendidik atau guru, terlebih di pulau-pulau terluar di Kepri. "Misalnya, ada satu atau dua mata pelajaran tak ada guru, karena guru dari luar tak mau bertugas di sana (pulau)," ujar.

Zoztafia berharap ada kebijakan nasional yang memprioritaskan penerimaan guru madrasah dari warga sekitar pulau tersebut, sehingga kebutuhan guru terpenuhi secara maksimal.



Pewarta :
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026