Logo Header Antaranews Kepri

Kasus DBD di Batam menurun pada 2025 seiring peningkatan kewaspadaan

Jumat, 9 Januari 2026 17:48 WIB
Image Print
Tampak luar Puskesmas Belian Dinkes Kota Batam, Kepri. ANTARA/Amandine Nadja

Batam (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) mencatat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang 2025, seiring meningkatnya kewaspadaan dan upaya pengendalian penyakit.

Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, pada 2025 jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 809 kasus, menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 871 kasus.

“Selain jumlah kasus yang menurun, angka kematian akibat DBD juga turun signifikan, dari 14 kasus pada 2024 menjadi tiga kasus pada 2025,” ujar Didi saat dihubungi di Batam, Jumat.

Penurunan tersebut juga dapat dilihat dari angka ‘incident rate’ yang turun dari 68,21 per 100 ribu penduduk menjadi 60,28 per 100 ribu penduduk.

“Di 2025, puncak kasus DBD terjadi pada Juli dengan 112 temuan. Namun, hingga akhir tahun, jumlah kasus relatif terjaga dan berada di bawah 100 kasus per bulan,” kata dia.

Didi juga menjelaskan, tingginya angka kematian pada periode tertentu meski jumlah kasus menurun dapat dipengaruhi sejumlah faktor.

“Bisa karena keterlambatan pasien berobat ke puskesmas atau rumah sakit, alhasil deteksi dan diagnosis yang terlambat, serta kualitas tatalaksana DBD yang belum merata, khususnya dalam manajemen cairan untuk mencegah dehidrasi pasien,” katanya.

Baca juga: Pemkab Natuna nonaktifkan oknum camat diduga kasus asusila anak di bawah umur

Selain itu, keterlambatan rujukan, keterbatasan rumah sakit rujukan, perubahan karakter virus, infeksi sekunder yang lebih berat, serta kasus yang banyak menyerang kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia juga menjadi faktor risiko.

Di sisi lain, lanjut dia, kasus ringan kerap tidak tercatat, sementara kasus kematian hampir selalu terlaporkan.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Didi menyebutkan kasus DBD di Batam bersifat fluktuatif. Dimana pada 2022 tercatat 902 kasus, turun di 2023 menjadi 392 kasus, dan kembali meningkat di 2024.

“Ini menunjukkan DBD bersifat siklikal dan memerlukan pengendalian yang berkesinambungan. Ketika kewaspadaan menurun, kasus bisa kembali naik,” kata dia.

Ia mengimbau masyarakat untuk konsisten menerapkan 3M Plus, yakni menguras, menutup dan mendaur ulang tempat-tempat yang dapat menyimpan air dan menjadi sarang nyamuk.

Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala DBD.

“Pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat sangat menentukan,” ujar Didi.

Baca juga: Pemkab Natuna perbaiki data warga penerima bantuan JKN



Pewarta :
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026